Rabu, 10 Agustus 2016

Rindu yang enggan berlalu..


Bismillah..
Entah ini tulisan keberapa yang saya posting dengan tema yang sama. Tema yang sejak saya punya blog ini termasuk tema yang selalu dengan gamblang dan gampangnya saya tulis. Smanti.
Bangunan yang terlalu banyak cerita indah tersimpan disana. Saksi bisu perjuangan saya dan mereka demi masa depan kita. Entah bagaimana kabarnya. Semoga selalu dan semakin baik-baik saja ya.
Dikehingan malam seperti ini, saya tetiba teringat akan setiap koridornya. Sudah banyak orang yang menanyakan ke saya.. apa sih yang bikin kamu selalu kangen sama smanti? Pasti temen-temen kamu kan? kalau gak ada mereka, mana mau mau di sekolah lama-lama. Iya kan?
Dan itu salah. Yang saya rindukan ya bangunannya. Masjidnya, koridornya, lapangannya, bahkan setiap jengkal bangunan ini selalu berhasil mengganggu tameng qalbu yang dibangun untuk menghalau rasa rindu. Dan menurut mereka saya gila, iya. Emangnya siapa sih yang mau sendirian di sekolah menghabiskan waktu berlama-lama tanpa ada yang menemani? Tapi, bagi saya itu hal yang wajar. Karena saya selalu dan terlalu nyaman dengan kesendirian saya di bangunan itu. Dan seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, saya selalu punya tempat andalan untuk menyendiri. Masjidnya, lapangannya, koridornya, atau bahkan semua sudut dari bangunan ini sudah menjadi tempat andalan untuk saya. Pagi hari saya akan memulai hari dengan berinteraksi dengan masjidnya (cukup saya dan Allah yg tau apa yg saya lakukan, he). setelah itu dilanjutkan dengan kajian pagi bersama komunitas remaja masjid sampai lima menit sebelum bel masuk kelas berbunyi.  Ketika hujan, saya dengan senang bercengkrama dengannya di lapangan tengah. Ketika panas terik, saya akan bersantai di bawah pohon yang juga ada di lapangan tengah. Ketika saya jenuh dan bosan, saya akan melangkahkan kaki menyusuri setiap koridornya. Sore hari saya akan menikmatinya di kolam ikan dekat lapangan depan. Ketika malam, saya akan duduk bersantai ditengah lapangan depan hanya untuk menyapa bintang-bintang yang selalu ramai di langit malam smanti.  Bahkan setiap mimpi dan cita-cita yang saya pikirkan, saya rencanakan, dan saya gantungkan di langit senja dan langit malam berbintang di lapangan sekolah. Dan yang paling nyaman adalah saya bisa duduk, bersimpuh, dan bersujud dihadapan Sang Pemilik Kehidupan kapanpun karena smanti punya Masjid yang luar biasa, yang selalu memberikan kenyaman tak tertandingi. Dan masih banyak yang bisa dan biasa saya lakukan dalam kesendirian saya di sekolah. Oke saya akui, setiap yang saya lakukan memang tak selalu sendirian, karena saya hampir selalu ditemani chokichoki, Cadbury, moccafloat, ataupun walls cornetto black and white. Karena smanti selalu menjadi tempat ternyaman setelah rumah.
Akhir-akhir ini banyak orang baru yang lagi-lagi menanyakan masa SMA saya. Masa dimana saya belajar banyak hal, bagaimana rasa sakitnya ketika jatuh, bagaimana kerasnya perjuangan kembali bangkit dan melanjutkan perjuangan untuk memperbaiki semuanya. Dan setelah saya kembali memikirkan semuanya, saya bisa bertahan berada di Papua untuk mengabdikan diri pada negeri ini ya karena Smanti. Pengalaman di sekolah membawa banyak perubahan di diri saya, termasuk bagaimana menyikapi orang-orang yang tentunya memiliki latar dan sikap yang berbeda-beda seperti sekarang. Bagaimana saya harus menempatkan diri dilingkungan orang-orang yang jauh lebih tua dan lebih berpengalaman tanpa terkesan menggurui. Dan bagaimana menengkan diri ketika rasa jenuh dan bosan mulai menghantui.
Dan pada akhirnya, semakin banyak dan semakin sering mereka menanyakannya, rasa rindu pada bangunan sederhana sekolah saya dulu semakin membuncah tak menentu dan tak tau kapan akan berlalu…