Selasa, 08 April 2014

Aku dan Mereka



Bismillah..
Tepat pukul 23.00 wita, setelah pembicaraan via telpon itu usai, aku mulai menuliskan kata demi kata di lembar putih ini. Kata demi kata yang mungkin tak bisa membayar semua yang sudah mereka lakukan dan berikan untukku. 

Malam ini, rasa itu kembali muncul. Sebuah rasa yang hampir tiga tahun ini kurasakan. Sebuah rasa yang selalu membesitkan satu kalimat…. Mengapa harus aku?

Iya, mengapa harus aku? Mengapa tak orang lain saja? Apa bedanya aku dengan mereka? Bahkan aku merasa mereka lebih bisa dibanding denganku? Pertanyaan demi pertanyaan yang terus terbesit. Pertanyaan yang aku sebut sebagai… beban.

Sejak awal kisah ku dimulai dan sejak awal aku mengenal mereka, aku sudah mendapatkan cerita. Cerita tentang mereka dan segala sesuatu tentang yang mereka pedulikan. Terlalu banyak cerita yang ku dapatkan, tak ayal itu membuatku banyak belajar. Aku terbiasa untuk bertanya, berfikir, mencerna, mencari solusi, termasuk memahami setiap kata demi kata yang keluar dari mereka. Terbiasa atau dipaksa bahkan terpaksa untuk memahami setiap cerita mereka, itu membuatku merasakan ada sesuatu yang harus aku lakukan untuk mereka. Untuk sesuatu yang mereka pedulikan. Aku merasa mempunyai beban, iya, beban tanggungjawab. Sesuatu yang kurasa harus kulakukan. Apakah aku mulai peduli dengan apa yang mereka pedulikan? Entahlah. Aku belum menemukan jawabannya.

Semakin hari, mereka semakin mengajarkanku banyak hal. Padahal, mereka melakukan itu hanya dengan cerita-cerita. Atau lebih tepatnya, sharing. Mereka sadari atau tidak, dari sharing demi sharing yang terjadi diantara kami, dari tindak tanduk mereka selama kami berada di tempat atau kegiatan yang sama, aku mencoba mempelajari itu dari mereka. Yah, meski dengan melakukan atau memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya aku pikirkan bahkan lakukan. Tapi, disitulah letak titik tantangan dan pembelajarannya.

Selama ‘proses belajar’ terlalu banyak kesan yang terjadi. Terlalu banyak hal yang kurasakan. Gembira, marah, kecewa, malu, sedih, hingga menangis pun terlalu sering. Tak hanya itu, aku beberapa kali dianggap sebagai junior yang kurangajar, tak tau diri, sok pintar, bahkan itu sampai memberikan efek cukup besar antara aku dan seniorku. Tapi, pembelajaranku tak henti sampai disitu. Sejak saat itu, aku lebih merasa tertantang dan memiliki tanggungjawab untuk menyelesaikan apa yang sudah aku mulai di awal kisahku.

Entah apa yang membuat aku terkesan selalu menuruti setiap perkataan dan saran dari mereka. Tapi yang jelas, yang aku pahami adalah… mereka lebih dewasa dariku. Mereka lebih dahulu peduli dengan apa yang mungkin sedang aku pedulikan sekarang. Dan mungkin itu cukup menjadi alasan yang kuat untuk aku terus dan terus belajar dari mereka.

Dan sekarang, aku sudah berada diujung masaku. Iya, hampir tiga tahun ya, Kak. Hampir tiga tahun aku mengenal mereka, hampir tiga tahun mereka menempa ku dengan berbagai cara mereka. Dan hampir tiga tahun aku belajar dari mereka. Terimakasih banyak ya, Kak.

Dan di akhir masaku, aku ingin menjadi seperti mereka. Menjadi makhluk yang peduli. Bahkan terlalu peduli. Tapi, rasa takut dan sungkan itu menghantuiku. Takut tak bisa melakukannya, dan jika itu aku lakukan, aku takut kepedulianku disalahartikan. Persis seperti apa yang sedang terjadi saat ini. Tapi, aku tak ingin dianggap sebagai alumni yang lupa akan siapa dirinya dan asal usulnya. Semoga, esok aku mempunyai keberanian yang besar untuk meneruskan apa yang telah mereka titipkan padaku. Aamiin.

Mereka itu kalian. Kalian itu mereka. aku menyebut mereka itu Hantu. hantu I dan Hantu II. kakak-kakak yang paling ngeselin yang pernah ada. dua makhluk yang paling bisa ngebully, tanpa bisa dibully balik.
Terlalu banyak cerita tentang kalian, Kak. Terlalu banyak warna yang kalian berikan. Semoga kader selanjutnya bisa jauh lebih baik dariku. Aamiin. Terimaksih banyak kak. Tetap peduli-peduli ya. Walaupun masaku telah habis disana, jangan pernah bosan untuk mengajariku tentang segala kepedulian yang kalian miliki. Sekali lagi, terimakasih banyak yaaa, Kahaaa. Terimakasih banyak yaaa, Kaheeen. Salam Peduliii.
^_^

0 Comments: