Bismillah..
Tepat
pukul 23.00 wita, setelah pembicaraan via telpon itu usai, aku mulai menuliskan
kata demi kata di lembar putih ini. Kata demi kata yang mungkin tak bisa
membayar semua yang sudah mereka lakukan dan berikan untukku.
Malam
ini, rasa itu kembali muncul. Sebuah rasa yang hampir tiga tahun ini kurasakan.
Sebuah rasa yang selalu membesitkan satu kalimat…. Mengapa harus aku?
Iya,
mengapa harus aku? Mengapa tak orang lain saja? Apa bedanya aku dengan mereka?
Bahkan aku merasa mereka lebih bisa dibanding denganku? Pertanyaan demi
pertanyaan yang terus terbesit. Pertanyaan yang aku sebut sebagai… beban.
Sejak
awal kisah ku dimulai dan sejak awal aku mengenal mereka, aku sudah mendapatkan
cerita. Cerita tentang mereka dan segala sesuatu tentang yang mereka pedulikan.
Terlalu banyak cerita yang ku dapatkan, tak ayal itu membuatku banyak belajar.
Aku terbiasa untuk bertanya, berfikir, mencerna, mencari solusi, termasuk
memahami setiap kata demi kata yang keluar dari mereka. Terbiasa atau dipaksa
bahkan terpaksa untuk memahami setiap cerita mereka, itu membuatku merasakan
ada sesuatu yang harus aku lakukan untuk mereka. Untuk sesuatu yang mereka
pedulikan. Aku merasa mempunyai beban, iya, beban tanggungjawab. Sesuatu yang
kurasa harus kulakukan. Apakah aku mulai peduli dengan apa yang mereka
pedulikan? Entahlah. Aku belum menemukan jawabannya.
Semakin
hari, mereka semakin mengajarkanku banyak hal. Padahal, mereka melakukan itu
hanya dengan cerita-cerita. Atau lebih tepatnya, sharing. Mereka sadari atau tidak,
dari sharing demi sharing yang terjadi diantara kami, dari tindak tanduk mereka
selama kami berada di tempat atau kegiatan yang sama, aku mencoba mempelajari
itu dari mereka. Yah, meski dengan melakukan atau memikirkan hal-hal yang tidak
seharusnya aku pikirkan bahkan lakukan. Tapi, disitulah letak titik tantangan
dan pembelajarannya.
Selama
‘proses belajar’ terlalu banyak kesan yang terjadi. Terlalu banyak hal yang
kurasakan. Gembira, marah, kecewa, malu, sedih, hingga menangis pun terlalu
sering. Tak hanya itu, aku beberapa kali dianggap sebagai junior yang
kurangajar, tak tau diri, sok pintar, bahkan itu sampai memberikan efek cukup
besar antara aku dan seniorku. Tapi, pembelajaranku tak henti sampai disitu.
Sejak saat itu, aku lebih merasa tertantang dan memiliki tanggungjawab untuk
menyelesaikan apa yang sudah aku mulai di awal kisahku.
Entah
apa yang membuat aku terkesan selalu menuruti setiap perkataan dan saran dari mereka.
Tapi yang jelas, yang aku pahami adalah… mereka lebih dewasa dariku. Mereka
lebih dahulu peduli dengan apa yang mungkin sedang aku pedulikan sekarang. Dan
mungkin itu cukup menjadi alasan yang kuat untuk aku terus dan terus belajar
dari mereka.
Dan
sekarang, aku sudah berada diujung masaku. Iya, hampir tiga tahun ya, Kak. Hampir
tiga tahun aku mengenal mereka, hampir tiga tahun mereka menempa ku dengan
berbagai cara mereka. Dan hampir tiga tahun aku belajar dari mereka.
Terimakasih banyak ya, Kak.
Dan
di akhir masaku, aku ingin menjadi seperti mereka. Menjadi makhluk yang peduli.
Bahkan terlalu peduli. Tapi, rasa takut dan sungkan itu menghantuiku. Takut tak
bisa melakukannya, dan jika itu aku lakukan, aku takut kepedulianku
disalahartikan. Persis seperti apa yang sedang terjadi saat ini. Tapi, aku tak
ingin dianggap sebagai alumni yang lupa akan siapa dirinya dan asal usulnya.
Semoga, esok aku mempunyai keberanian yang besar untuk meneruskan apa yang
telah mereka titipkan padaku. Aamiin.
Mereka
itu kalian. Kalian itu mereka. aku menyebut mereka itu Hantu. hantu I dan Hantu II.
kakak-kakak yang paling ngeselin yang pernah ada. dua makhluk yang paling bisa
ngebully, tanpa bisa dibully balik.
Terlalu banyak cerita tentang kalian, Kak.
Terlalu banyak warna yang kalian berikan. Semoga kader selanjutnya bisa jauh
lebih baik dariku. Aamiin. Terimaksih banyak kak. Tetap peduli-peduli ya.
Walaupun masaku telah habis disana, jangan pernah bosan untuk mengajariku
tentang segala kepedulian yang kalian miliki. Sekali lagi, terimakasih banyak
yaaa, Kahaaa. Terimakasih banyak yaaa, Kaheeen. Salam Peduliii.
^_^
0 Comments:
Post a Comment