Senin, 05 September 2016

Cerianya anak-anak Sawingrai

Bismillah..
Ada yang menarik di awal September ini, sebuah rasa yang sejak dulu selalu memenuhi hati setiap kali berinteraksi. Anak-anak. Entah sejak kapan rasa bahagia selalu muncul setiap kali bermain dengan mereka. Rasa yang selalu berhasil bikin senyum-senyum sendiri tiap kali ngingetnya. Dan setelah beberapa bulan ditanah rantau ini, akhirnya rasa itu kembali hadir.

Bermain. Satu kata yang sejak dulu selalu menyenangkan. Aku selalu senang bermain dengan anak-anak. Dan akan selalu ada canda tawa di dalamnya. Sabtu, 3 September 2016 menjadi waktu yang sangat berharga karena bisa bermain dengan mereka. Iya, mereka anak-anak yang senyum nya tak pernah lepas dari wajah bahagianya, walaupun mereka hanya tinggal di pulau kecil.

Mereka lucu, manis, senyuman mereka selalu bisa menjadi penyemangat. Dan mereka mengajarkan arti bahagia sederhana yang harus selalu disyukuri.

Mereka anak-anak yang akses transportasinya terbatas, mereka yang tak patah semangat untuk mengenyam pendidikan sampai atas, lagi dan lagi walau mereka berada di wilayah tapal batas. Tapi, tahukah kalian, mereka sama sekali tak pernah mengeluh. Mereka selalu menikmati setiap detik kehidupan mereka. Bahkan menjadi pemacu diri untuk tetap bisa berusaha yang terbaik bagi negeri.

“Gotong Royong itu semboyanku. Hidup damai cita-citaku. Menurut orang tua tidak boleh membantah. Aku ini anak Indonesia. Aku cinta Indonesia. Tanah air yang kaya hidup makmur sentosa, bersatulah bangsaku.”

Itu lagu yang pertama kali mereka nyanyikan ketika kami datang menyapa mereka. Tak ayal seketika rasa ingin langsung berinteraksi dengan mereka muncul begitu saja. Dan kalian tau? Mereka sangat ramah, mereka excited dengan kedatanganku, kami asik bercerita bernyanyi bahkan bermain bersama. Ular naga, kotakpos, bahkan sampai tarik tambang. Itu permainan tradisional yang kami mainkan. Senyum dan canda tawa tak lepas dari wajah kami, bahkan dari wajah orangtua mereka.

Sebelum pulang, ada seorang ibu yang menghampiriku. Memeluk dan mengecup keningku, beliau berterimakasih karena menurutnya aku sudah berhasil mengembangkan senyuman diwajah lugu anak-anak di desa ini. Padahal, seharusnya aku yang harus berterimakasih kepada beliau karena sudah berhasil mendidik dan menciptakan anak-anak generasi penerus bangsa yang begitu kerennya.
Tak hanya itu, seorang gadis kecil berumur 6 tahun, enggan melepaskan pelukannya dariku ketika aku pamit untuk pulang. Beberapa Balita hingga anak-anak yang sedari tadi asik bercengkrama dengan ku ketika bernyanyi bersama, nangis karena memperebukan tanganku untuk mereka genggam ketika bermain tarik tambang. Ah, mereka terlalu menyenangkan untuk disinggahi hanya dengan waktu kurang dari 3 jam.

Entah harus seperti apa menggambarkan rasanya bisa bercerita, bernyanyi bahkan bermain dengan anak-anak ini. Ah iya, mereka adalah anak-anak Desa Sawingrai, Kep. Raja Ampat. Desa wisata yang hanya memiliki 1 SD, jadi jika mereka ingin melanjutkan pendidikan di bangku SMP dan seterusnya, mereka harus ke Kota dan menyebrang lautan dengan perahu. Tapi walau begitu, mereka tak patah semangat untuk tetap bersekolah. karena mereka adalah anak-anak yang keren dan tulus membahagiakan. Dan yang aku tau, setiap kali wajah bahagia tanpa beban yang mereka perlihatkan kepadaku, seperti menularkan energi dan semangat yang terus berpacu memenuhi diriku. Mungkin itu alasan terbesar mengapa sampai detik ini aku selalu suka bermain dengan anak-anak.

Dan mereka akan menjadi alasan bersatunya bangsa ini, seperti lagu yang mereka nyanyikan. Aku percaya.

Terimasih untuk waktu dan pelajaran berharganya adik-adik. Sampai jumpa lagi yaaa, Kalian!


Salam manis sejuta rindu,
Kakak Najma

0 Comments: