Bismillah.
Berawal dari pertanyaan, “Kamu kapan lulusnya, Nind?” mengalirlah obrolan tentang salah satu
fase hidup yang sedang ‘hits’ di kalangan manusia-manusia muda. Pun dalam
lingkaran pertemanan saya.
Me ni kah. Satu kata yang sedang marak
diperbincangkan, pun baperisasi tentang hal ini semakin tak terkendali. Dimulai
dari intagram, twitter, dan segala media sosial. Menikah bukan fenomena aneh
kan? Tapi, ketika rangkaian kata “menikah muda” atau “menikah dini” mulai
banyak berseliwaran, pro kontra pun disana sini bermunculan.
Tak bisa dipungkiri, dua istilah yang tadi itu
mempengaruhi gaya hidup masa kini. Bahkan sudah banyak yang mengambil langkah
ini di bangku sekolah. Yap, bangku sekolah dalam arti sebenarnya. Padahal, Negara
pun sudah mengatur tentang hal ini (re: umur). Tapi, saya gak nyalahin mereka
yang sudah melakukan hal tersebut, pun tidak memihak. Karena itu adalah pilihan
mereka.
Dan, menurut saya, pernikahan dini itu bukan
tentang umur. Tapi tentang kesiapan. Lahir maupun batin.
Apa tujuanmu? Kemana arah pelayaranmu? Allah
kah? Atau hanya mengkuti trend?
Niat awalmu? Lillah? Atau hanya ingin dipandang
‘wah’?
Sudah dekatkah kamu dengan Sang Pemilik Hati? Yakin
kalau itu memang dari Allah beneran, bukan hanya godaan syaithan?
Sudah habiskah ego-mu? Atau malah semua yang
kamu ingini harus kamu miliki?
Sudahkah kamu memiliki kesabaran yang luar
biasa luas dengan stok mengalah yang tak juga kalah jumlah?
Sudah siapkah untuk hidup dengan orang asing?
Sudah siapkah untuk membagi hidupmu yang nyaman
itu dengan orang yang bukan siapa-siapa? Bahkan bisa jadi, orang tersebut kamu
kenal hanya dalam hitungan jam.
Untuk perempuan, sudah siapkah untuk
memindahkan surga dari bawah telapak kaki ibumu menjadi ke bawah telapak kaki
orang asing yang kamu pilih? Sudah siapkah kamu ‘mengabdikan’ hidupmu yang
berharga itu untuk kebahagiaan bersama dan meraih Surga yang dijanjikan Allah?
Untuk laki-laki, sudah siapkah kamu menjadi
nahkoda yang akan memimpin pelayaran ‘kapal’ untuk mengaruhi bahtera yang
begitu luas? Tak hanya laut tenang, bahkan ada samudera yang penuh dengan
badai, bisa jadi kapal yang kamu kendarai itu terombang-ambing oleh badai tadi.
Lantas, jika sudah menikah, mau apa? Mau ngapain?
Masih banyak lagi yang harus diyakinkan. Karena
sejatinya menikah itu fitrah, sunnah, bahkan menjadi ladang untuk menyempurnakan
separuh agama dan meraih Ridho Allah, kan?
Bukan bermaksud menggurui, pun saya belum
menikah. Masih sangat fakir ilmu. Semua yang saya tuangkan adalah pemikiran
gadis 22 tahun yang sedang berjuang membentengi diri. Dan pertanyaan-pertanyaan
tersebut sudah lama terbesit dalam diri ini. Bahkan sudah pernah ditanyakan pada
diri sendiri. Jawabannya gimana? Berusaha mendekatkan Sang Maha Cinta agar tetap
dituntun untuk setiap langkah. Kan Allah Maha Pembolakbalik hati. insyaAllah nanti ketemu jawabannya, seiring dengan semakin sering bertemu dan bermesraan dengan Allah.
Dan ketika saatnya tiba, kesiapanmu sudah
bulat, rukun terpenuhi, tak ada uzur syar’i yang menghalangi, semoga langkah
tersebut jadi yang terbaik. insyaAllah.
Yang saya yakini, jodoh itu datang dengan cara dan
waktu yang tepat, terbaik, halal, dan diberkahi Allah. Dan ketika saya
mendekatkan diri kepada Sang Maha Cinta, Allah pun akan mendatangkan orang yang
ketika bersama pun saya semakin dekat dengan-Nya. Ketika saya memohon kepada
Allah, pun akan ada yang meminta saya kepada Allah. Ketika saya mengingat
Allah, akan ada orang yang berusa menemukan dan menjemput saya berbekal ridho
Allah, dengan langkah yang insyaAllah diberkahi Allah.
Bukankah sangat indah jika ‘bahtera’ yang kamu
dan dia layarkan menjadi kapal pesiar yang setiap milimeter perjalanannya
mengundang kagum penduduk langit, karena selalu dinaungi Rahmat Allah?
Tenang, jangan panic, jangan risau, jangan
galau.
Allah yuftah alaikum. Barakallahu fiikum wa tabarakallah.
Allah yuftah alaikum. Barakallahu fiikum wa tabarakallah.
Ada aku disini. Saudarimu, yang selalu mendo’akan
hal-hal baik untukmu. Termasuk tentang orang yang akan menghalalkanmu.
Ditulis dengan sepenuh cinta dari Allah, ditemani lagu Edcoustic ft. Inteam & Suhaimi Saad - Kau Ditakdirkan Untukku.
Untuk saudariku tercinta.
Untuk saudariku tercinta.
Tangerang Selatan, 24 Sya’ban 1439 H
0 Comments:
Post a Comment