Minggu, 25 September 2016

Kira-kira begini...

Bismillah..
Entah harus mendeskripsikan nya seperti apa, karena saya selalu dan tidak pernah menyukai kata pisah.
Sangat mudah untuk saya bergaul dengan lingkungan baru, tapi sangat susah bagi saya untuk lepas dan meninggalkan lingkungan yang nyaman dan berkesan.
Saya selalu suka pertemuan, tapi tak pernah menyukai perpisahan.
Saya selalu suka senyuman, tapi tak pernah suka tangisan.
Saya selalu suka undangan pertemuan, tapi tak pernah suka jamuan perpisahan.
Biarlah saya menikmati setiap detik yang tersisa bersama kalian, tanpa harus mengungkit dan mempertanyakan tanggal kepergian.
Bukankah yang meninggalkan dan ditinggalkan akan sama-sama merasa sakit?
jadi, kenapa harus menghitung mundur waktu yang tersisa jika masih banyak cara lain untuk menikmati kebersamaan kita?
Jalani...Nikmati...Syukuri
Sesederhana Ini
^_^

Senin, 05 September 2016

Cerianya anak-anak Sawingrai

Bismillah..
Ada yang menarik di awal September ini, sebuah rasa yang sejak dulu selalu memenuhi hati setiap kali berinteraksi. Anak-anak. Entah sejak kapan rasa bahagia selalu muncul setiap kali bermain dengan mereka. Rasa yang selalu berhasil bikin senyum-senyum sendiri tiap kali ngingetnya. Dan setelah beberapa bulan ditanah rantau ini, akhirnya rasa itu kembali hadir.

Bermain. Satu kata yang sejak dulu selalu menyenangkan. Aku selalu senang bermain dengan anak-anak. Dan akan selalu ada canda tawa di dalamnya. Sabtu, 3 September 2016 menjadi waktu yang sangat berharga karena bisa bermain dengan mereka. Iya, mereka anak-anak yang senyum nya tak pernah lepas dari wajah bahagianya, walaupun mereka hanya tinggal di pulau kecil.

Mereka lucu, manis, senyuman mereka selalu bisa menjadi penyemangat. Dan mereka mengajarkan arti bahagia sederhana yang harus selalu disyukuri.

Mereka anak-anak yang akses transportasinya terbatas, mereka yang tak patah semangat untuk mengenyam pendidikan sampai atas, lagi dan lagi walau mereka berada di wilayah tapal batas. Tapi, tahukah kalian, mereka sama sekali tak pernah mengeluh. Mereka selalu menikmati setiap detik kehidupan mereka. Bahkan menjadi pemacu diri untuk tetap bisa berusaha yang terbaik bagi negeri.

“Gotong Royong itu semboyanku. Hidup damai cita-citaku. Menurut orang tua tidak boleh membantah. Aku ini anak Indonesia. Aku cinta Indonesia. Tanah air yang kaya hidup makmur sentosa, bersatulah bangsaku.”

Itu lagu yang pertama kali mereka nyanyikan ketika kami datang menyapa mereka. Tak ayal seketika rasa ingin langsung berinteraksi dengan mereka muncul begitu saja. Dan kalian tau? Mereka sangat ramah, mereka excited dengan kedatanganku, kami asik bercerita bernyanyi bahkan bermain bersama. Ular naga, kotakpos, bahkan sampai tarik tambang. Itu permainan tradisional yang kami mainkan. Senyum dan canda tawa tak lepas dari wajah kami, bahkan dari wajah orangtua mereka.

Sebelum pulang, ada seorang ibu yang menghampiriku. Memeluk dan mengecup keningku, beliau berterimakasih karena menurutnya aku sudah berhasil mengembangkan senyuman diwajah lugu anak-anak di desa ini. Padahal, seharusnya aku yang harus berterimakasih kepada beliau karena sudah berhasil mendidik dan menciptakan anak-anak generasi penerus bangsa yang begitu kerennya.
Tak hanya itu, seorang gadis kecil berumur 6 tahun, enggan melepaskan pelukannya dariku ketika aku pamit untuk pulang. Beberapa Balita hingga anak-anak yang sedari tadi asik bercengkrama dengan ku ketika bernyanyi bersama, nangis karena memperebukan tanganku untuk mereka genggam ketika bermain tarik tambang. Ah, mereka terlalu menyenangkan untuk disinggahi hanya dengan waktu kurang dari 3 jam.

Entah harus seperti apa menggambarkan rasanya bisa bercerita, bernyanyi bahkan bermain dengan anak-anak ini. Ah iya, mereka adalah anak-anak Desa Sawingrai, Kep. Raja Ampat. Desa wisata yang hanya memiliki 1 SD, jadi jika mereka ingin melanjutkan pendidikan di bangku SMP dan seterusnya, mereka harus ke Kota dan menyebrang lautan dengan perahu. Tapi walau begitu, mereka tak patah semangat untuk tetap bersekolah. karena mereka adalah anak-anak yang keren dan tulus membahagiakan. Dan yang aku tau, setiap kali wajah bahagia tanpa beban yang mereka perlihatkan kepadaku, seperti menularkan energi dan semangat yang terus berpacu memenuhi diriku. Mungkin itu alasan terbesar mengapa sampai detik ini aku selalu suka bermain dengan anak-anak.

Dan mereka akan menjadi alasan bersatunya bangsa ini, seperti lagu yang mereka nyanyikan. Aku percaya.

Terimasih untuk waktu dan pelajaran berharganya adik-adik. Sampai jumpa lagi yaaa, Kalian!


Salam manis sejuta rindu,
Kakak Najma

Rabu, 10 Agustus 2016

Rindu yang enggan berlalu..


Bismillah..
Entah ini tulisan keberapa yang saya posting dengan tema yang sama. Tema yang sejak saya punya blog ini termasuk tema yang selalu dengan gamblang dan gampangnya saya tulis. Smanti.
Bangunan yang terlalu banyak cerita indah tersimpan disana. Saksi bisu perjuangan saya dan mereka demi masa depan kita. Entah bagaimana kabarnya. Semoga selalu dan semakin baik-baik saja ya.
Dikehingan malam seperti ini, saya tetiba teringat akan setiap koridornya. Sudah banyak orang yang menanyakan ke saya.. apa sih yang bikin kamu selalu kangen sama smanti? Pasti temen-temen kamu kan? kalau gak ada mereka, mana mau mau di sekolah lama-lama. Iya kan?
Dan itu salah. Yang saya rindukan ya bangunannya. Masjidnya, koridornya, lapangannya, bahkan setiap jengkal bangunan ini selalu berhasil mengganggu tameng qalbu yang dibangun untuk menghalau rasa rindu. Dan menurut mereka saya gila, iya. Emangnya siapa sih yang mau sendirian di sekolah menghabiskan waktu berlama-lama tanpa ada yang menemani? Tapi, bagi saya itu hal yang wajar. Karena saya selalu dan terlalu nyaman dengan kesendirian saya di bangunan itu. Dan seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, saya selalu punya tempat andalan untuk menyendiri. Masjidnya, lapangannya, koridornya, atau bahkan semua sudut dari bangunan ini sudah menjadi tempat andalan untuk saya. Pagi hari saya akan memulai hari dengan berinteraksi dengan masjidnya (cukup saya dan Allah yg tau apa yg saya lakukan, he). setelah itu dilanjutkan dengan kajian pagi bersama komunitas remaja masjid sampai lima menit sebelum bel masuk kelas berbunyi.  Ketika hujan, saya dengan senang bercengkrama dengannya di lapangan tengah. Ketika panas terik, saya akan bersantai di bawah pohon yang juga ada di lapangan tengah. Ketika saya jenuh dan bosan, saya akan melangkahkan kaki menyusuri setiap koridornya. Sore hari saya akan menikmatinya di kolam ikan dekat lapangan depan. Ketika malam, saya akan duduk bersantai ditengah lapangan depan hanya untuk menyapa bintang-bintang yang selalu ramai di langit malam smanti.  Bahkan setiap mimpi dan cita-cita yang saya pikirkan, saya rencanakan, dan saya gantungkan di langit senja dan langit malam berbintang di lapangan sekolah. Dan yang paling nyaman adalah saya bisa duduk, bersimpuh, dan bersujud dihadapan Sang Pemilik Kehidupan kapanpun karena smanti punya Masjid yang luar biasa, yang selalu memberikan kenyaman tak tertandingi. Dan masih banyak yang bisa dan biasa saya lakukan dalam kesendirian saya di sekolah. Oke saya akui, setiap yang saya lakukan memang tak selalu sendirian, karena saya hampir selalu ditemani chokichoki, Cadbury, moccafloat, ataupun walls cornetto black and white. Karena smanti selalu menjadi tempat ternyaman setelah rumah.
Akhir-akhir ini banyak orang baru yang lagi-lagi menanyakan masa SMA saya. Masa dimana saya belajar banyak hal, bagaimana rasa sakitnya ketika jatuh, bagaimana kerasnya perjuangan kembali bangkit dan melanjutkan perjuangan untuk memperbaiki semuanya. Dan setelah saya kembali memikirkan semuanya, saya bisa bertahan berada di Papua untuk mengabdikan diri pada negeri ini ya karena Smanti. Pengalaman di sekolah membawa banyak perubahan di diri saya, termasuk bagaimana menyikapi orang-orang yang tentunya memiliki latar dan sikap yang berbeda-beda seperti sekarang. Bagaimana saya harus menempatkan diri dilingkungan orang-orang yang jauh lebih tua dan lebih berpengalaman tanpa terkesan menggurui. Dan bagaimana menengkan diri ketika rasa jenuh dan bosan mulai menghantui.
Dan pada akhirnya, semakin banyak dan semakin sering mereka menanyakannya, rasa rindu pada bangunan sederhana sekolah saya dulu semakin membuncah tak menentu dan tak tau kapan akan berlalu…