Sabtu, 25 Maret 2017

Untuk malaikat-malaikat Sorong yang ditinggalkan..

bismillah..
selamat malam menjelang pagi (masih) dari kota Sorong.
383 kali fajar dan senja yang sudah dilewati. bohong besar jika hanya terlewatkan begitu saja tanpa kesan dan tanpa warna. 
rasanya tak pantas menyandingkan kata terimakasih dan maaf untuk setiap hal yang sudah dilalui. untuk setiap hal yang meninggalkan jejak, yang mengajarkan arti kebersamaan. yang lagi-lagi membuktikan bahwa keluarga bukan hanya terjalin karena darah maupun daerah. dan tak pernah lelah untuk menciptakan cerita indah.

lagi-lagi bohong jika semua terasa biasa saja, ketika waktu semakin sempit, ketika kebersamaan yang nyata perlahan sirna. ketika pagi datang, disaat itu kami kan menghilang. hanya bersama kenangan. tetapi yang jelas, bahagia kami bersama keluarga baru bukan hanya sekedar angan-angan.

bukankah sesuatu yang sudah biasa kemudian menjadi tak biasa itu perlahan menghadirkan rasa kehilangan? karena, sesuatu yang paling menakutkan dalam pertemuan adalah mengikhlaskan perpisahan. dan yang paling menakutkan dari perpisahan itu adalah mengingat kenangan. bukankah kita juga tak bisa memilih, mana cerita yang dihilangkan dan mana yang dipertahankan?

maaf jika egois, tapi sepertinya kata terimaksih itu akan tetap disandingkan dengan maaf yang sudah jelas ketidakpantasannya. 
terimakasih sudah mengajarkan bahwasejauh apapun kaki melangkah, keluarga tetaplah tempat pulang. terimakasih selalu mengajarkan bahwa tidak butuh hal besar untuk bahagia. sesederhana makan mie titi dan semanis Donat Homi.
maaf untuk setiap kata dan sikap yang tak berkenan, untuk janji yang tak terlaksana, untuk masakan yang tak jadi tersedia, dan untuk buletin yang emmmmmm............

bagaimanapun keadaan sekarang dan nanti, sejauh apapun jarak yang harus dilewati, toh perpisahan akan tetap menyakitkan, tapi do'a dan kenangan akan selalu mendekatkan.





salam sayang untuk Keluarga Besar Stasiun Meteorologi Sorong
Najma

Minggu, 25 September 2016

Kira-kira begini...

Bismillah..
Entah harus mendeskripsikan nya seperti apa, karena saya selalu dan tidak pernah menyukai kata pisah.
Sangat mudah untuk saya bergaul dengan lingkungan baru, tapi sangat susah bagi saya untuk lepas dan meninggalkan lingkungan yang nyaman dan berkesan.
Saya selalu suka pertemuan, tapi tak pernah menyukai perpisahan.
Saya selalu suka senyuman, tapi tak pernah suka tangisan.
Saya selalu suka undangan pertemuan, tapi tak pernah suka jamuan perpisahan.
Biarlah saya menikmati setiap detik yang tersisa bersama kalian, tanpa harus mengungkit dan mempertanyakan tanggal kepergian.
Bukankah yang meninggalkan dan ditinggalkan akan sama-sama merasa sakit?
jadi, kenapa harus menghitung mundur waktu yang tersisa jika masih banyak cara lain untuk menikmati kebersamaan kita?
Jalani...Nikmati...Syukuri
Sesederhana Ini
^_^

Senin, 05 September 2016

Cerianya anak-anak Sawingrai

Bismillah..
Ada yang menarik di awal September ini, sebuah rasa yang sejak dulu selalu memenuhi hati setiap kali berinteraksi. Anak-anak. Entah sejak kapan rasa bahagia selalu muncul setiap kali bermain dengan mereka. Rasa yang selalu berhasil bikin senyum-senyum sendiri tiap kali ngingetnya. Dan setelah beberapa bulan ditanah rantau ini, akhirnya rasa itu kembali hadir.

Bermain. Satu kata yang sejak dulu selalu menyenangkan. Aku selalu senang bermain dengan anak-anak. Dan akan selalu ada canda tawa di dalamnya. Sabtu, 3 September 2016 menjadi waktu yang sangat berharga karena bisa bermain dengan mereka. Iya, mereka anak-anak yang senyum nya tak pernah lepas dari wajah bahagianya, walaupun mereka hanya tinggal di pulau kecil.

Mereka lucu, manis, senyuman mereka selalu bisa menjadi penyemangat. Dan mereka mengajarkan arti bahagia sederhana yang harus selalu disyukuri.

Mereka anak-anak yang akses transportasinya terbatas, mereka yang tak patah semangat untuk mengenyam pendidikan sampai atas, lagi dan lagi walau mereka berada di wilayah tapal batas. Tapi, tahukah kalian, mereka sama sekali tak pernah mengeluh. Mereka selalu menikmati setiap detik kehidupan mereka. Bahkan menjadi pemacu diri untuk tetap bisa berusaha yang terbaik bagi negeri.

“Gotong Royong itu semboyanku. Hidup damai cita-citaku. Menurut orang tua tidak boleh membantah. Aku ini anak Indonesia. Aku cinta Indonesia. Tanah air yang kaya hidup makmur sentosa, bersatulah bangsaku.”

Itu lagu yang pertama kali mereka nyanyikan ketika kami datang menyapa mereka. Tak ayal seketika rasa ingin langsung berinteraksi dengan mereka muncul begitu saja. Dan kalian tau? Mereka sangat ramah, mereka excited dengan kedatanganku, kami asik bercerita bernyanyi bahkan bermain bersama. Ular naga, kotakpos, bahkan sampai tarik tambang. Itu permainan tradisional yang kami mainkan. Senyum dan canda tawa tak lepas dari wajah kami, bahkan dari wajah orangtua mereka.

Sebelum pulang, ada seorang ibu yang menghampiriku. Memeluk dan mengecup keningku, beliau berterimakasih karena menurutnya aku sudah berhasil mengembangkan senyuman diwajah lugu anak-anak di desa ini. Padahal, seharusnya aku yang harus berterimakasih kepada beliau karena sudah berhasil mendidik dan menciptakan anak-anak generasi penerus bangsa yang begitu kerennya.
Tak hanya itu, seorang gadis kecil berumur 6 tahun, enggan melepaskan pelukannya dariku ketika aku pamit untuk pulang. Beberapa Balita hingga anak-anak yang sedari tadi asik bercengkrama dengan ku ketika bernyanyi bersama, nangis karena memperebukan tanganku untuk mereka genggam ketika bermain tarik tambang. Ah, mereka terlalu menyenangkan untuk disinggahi hanya dengan waktu kurang dari 3 jam.

Entah harus seperti apa menggambarkan rasanya bisa bercerita, bernyanyi bahkan bermain dengan anak-anak ini. Ah iya, mereka adalah anak-anak Desa Sawingrai, Kep. Raja Ampat. Desa wisata yang hanya memiliki 1 SD, jadi jika mereka ingin melanjutkan pendidikan di bangku SMP dan seterusnya, mereka harus ke Kota dan menyebrang lautan dengan perahu. Tapi walau begitu, mereka tak patah semangat untuk tetap bersekolah. karena mereka adalah anak-anak yang keren dan tulus membahagiakan. Dan yang aku tau, setiap kali wajah bahagia tanpa beban yang mereka perlihatkan kepadaku, seperti menularkan energi dan semangat yang terus berpacu memenuhi diriku. Mungkin itu alasan terbesar mengapa sampai detik ini aku selalu suka bermain dengan anak-anak.

Dan mereka akan menjadi alasan bersatunya bangsa ini, seperti lagu yang mereka nyanyikan. Aku percaya.

Terimasih untuk waktu dan pelajaran berharganya adik-adik. Sampai jumpa lagi yaaa, Kalian!


Salam manis sejuta rindu,
Kakak Najma