Kamis, 10 Mei 2018

Saya.........menikah?



Bismillah.

Berawal dari pertanyaan, “Kamu kapan lulusnya, Nind?” mengalirlah obrolan tentang salah satu fase hidup yang sedang ‘hits’ di kalangan manusia-manusia muda. Pun dalam lingkaran pertemanan saya.

Me ni kah. Satu kata yang sedang marak diperbincangkan, pun baperisasi tentang hal ini semakin tak terkendali. Dimulai dari intagram, twitter, dan segala media sosial. Menikah bukan fenomena aneh kan? Tapi, ketika rangkaian kata “menikah muda” atau “menikah dini” mulai banyak berseliwaran, pro kontra pun disana sini bermunculan. 

Tak bisa dipungkiri, dua istilah yang tadi itu mempengaruhi gaya hidup masa kini. Bahkan sudah banyak yang mengambil langkah ini di bangku sekolah. Yap, bangku sekolah dalam arti sebenarnya. Padahal, Negara pun sudah mengatur tentang hal ini (re: umur). Tapi, saya gak nyalahin mereka yang sudah melakukan hal tersebut, pun tidak memihak. Karena itu adalah pilihan mereka.

Dan, menurut saya, pernikahan dini itu bukan tentang umur. Tapi tentang kesiapan. Lahir maupun batin.

Apa tujuanmu? Kemana arah pelayaranmu? Allah kah? Atau hanya mengkuti trend?
Niat awalmu? Lillah? Atau hanya ingin dipandang ‘wah’?
Sudah dekatkah kamu dengan Sang Pemilik Hati? Yakin kalau itu memang dari Allah beneran, bukan hanya godaan syaithan?
Sudah habiskah ego-mu? Atau malah semua yang kamu ingini harus kamu miliki?
Sudahkah kamu memiliki kesabaran yang luar biasa luas dengan stok mengalah yang tak juga kalah jumlah?
Sudah siapkah untuk hidup dengan orang asing?
Sudah siapkah untuk membagi hidupmu yang nyaman itu dengan orang yang bukan siapa-siapa? Bahkan bisa jadi, orang tersebut kamu kenal hanya dalam hitungan jam.

Untuk perempuan, sudah siapkah untuk memindahkan surga dari bawah telapak kaki ibumu menjadi ke bawah telapak kaki orang asing yang kamu pilih? Sudah siapkah kamu ‘mengabdikan’ hidupmu yang berharga itu untuk kebahagiaan bersama dan meraih Surga yang dijanjikan Allah?  

Untuk laki-laki, sudah siapkah kamu menjadi nahkoda yang akan memimpin pelayaran ‘kapal’ untuk mengaruhi bahtera yang begitu luas? Tak hanya laut tenang, bahkan ada samudera yang penuh dengan badai, bisa jadi kapal yang kamu kendarai itu terombang-ambing oleh badai tadi. 

Lantas, jika sudah menikah, mau apa? Mau ngapain? 

Masih banyak lagi yang harus diyakinkan. Karena sejatinya menikah itu fitrah, sunnah, bahkan menjadi ladang untuk menyempurnakan separuh agama dan meraih Ridho Allah, kan?

Bukan bermaksud menggurui, pun saya belum menikah. Masih sangat fakir ilmu. Semua yang saya tuangkan adalah pemikiran gadis 22 tahun yang sedang berjuang membentengi diri. Dan pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah lama terbesit dalam diri ini. Bahkan sudah pernah ditanyakan pada diri sendiri. Jawabannya gimana? Berusaha mendekatkan Sang Maha Cinta agar tetap dituntun untuk setiap langkah. Kan Allah Maha Pembolakbalik hati. insyaAllah nanti ketemu jawabannya, seiring dengan semakin sering bertemu dan bermesraan dengan Allah.

Dan ketika saatnya tiba, kesiapanmu sudah bulat, rukun terpenuhi, tak ada uzur syar’i yang menghalangi, semoga langkah tersebut jadi yang terbaik. insyaAllah.

Yang saya yakini, jodoh itu datang dengan cara dan waktu yang tepat, terbaik, halal, dan diberkahi Allah. Dan ketika saya mendekatkan diri kepada Sang Maha Cinta, Allah pun akan mendatangkan orang yang ketika bersama pun saya semakin dekat dengan-Nya. Ketika saya memohon kepada Allah, pun akan ada yang meminta saya kepada Allah. Ketika saya mengingat Allah, akan ada orang yang berusa menemukan dan menjemput saya berbekal ridho Allah, dengan langkah yang insyaAllah diberkahi Allah.

Bukankah sangat indah jika ‘bahtera’ yang kamu dan dia layarkan menjadi kapal pesiar yang setiap milimeter perjalanannya mengundang kagum penduduk langit, karena selalu dinaungi Rahmat Allah?

Tenang, jangan panic, jangan risau, jangan galau.
Allah yuftah alaikum. Barakallahu fiikum wa tabarakallah.
Ada aku disini. Saudarimu, yang selalu mendo’akan hal-hal baik untukmu. Termasuk tentang orang yang akan menghalalkanmu.


Ditulis dengan sepenuh cinta dari Allah, ditemani lagu Edcoustic ft. Inteam & Suhaimi Saad - Kau Ditakdirkan Untukku
Untuk saudariku tercinta.
Tangerang Selatan, 24 Sya’ban 1439 H


Selasa, 09 Januari 2018

Coba Tanya Hatimu.

coba tanya hatimu sekali lagi, sebelum benar-benar memilih.
baik-baik kah? sehatkah?
ada banyak hal yang tak bisa kamu sembunyikan begitu saja. terutama bagi mereka yang begitu menyayangimu. begitu memikirkanmu. begitu mengkhawatirkanmu.
jangan hanya bersembunyi dibalik senyum palsu. 
tanpa kamu sadari, ada orang yang terluka karena senyumanmu.
ada orang yang mengkhawatirkan itu. 
ada mereka yang ingin bertanya,
"kamu baik-baik saja?"
tapi, mereka urungkan, karena takut menghapus senyumanmu, walau mereka tahu, itu palsu.

kadang, bodo amat dan tidak peduli akan omongan orang lain itu perlu.
itu baik untuk kesehatan diri. itu baik untuk kesehatan.......emm, hati. mungkin.
kamu tau kenapa?
karena, terkadang memikirkan orang lain itu bisa menambah bebanmu. bisa meragukan jalanmu. bahkan menghentikan langkahmu.
tetaplah berproses. jadilah dewasa.
jangan hanya melibatkan hati dalam setiap urusan. tapi libatkan Allah dalam setiap keputusan.

Sabtu, 25 Maret 2017

Untuk malaikat-malaikat Sorong yang ditinggalkan..

bismillah..
selamat malam menjelang pagi (masih) dari kota Sorong.
383 kali fajar dan senja yang sudah dilewati. bohong besar jika hanya terlewatkan begitu saja tanpa kesan dan tanpa warna. 
rasanya tak pantas menyandingkan kata terimakasih dan maaf untuk setiap hal yang sudah dilalui. untuk setiap hal yang meninggalkan jejak, yang mengajarkan arti kebersamaan. yang lagi-lagi membuktikan bahwa keluarga bukan hanya terjalin karena darah maupun daerah. dan tak pernah lelah untuk menciptakan cerita indah.

lagi-lagi bohong jika semua terasa biasa saja, ketika waktu semakin sempit, ketika kebersamaan yang nyata perlahan sirna. ketika pagi datang, disaat itu kami kan menghilang. hanya bersama kenangan. tetapi yang jelas, bahagia kami bersama keluarga baru bukan hanya sekedar angan-angan.

bukankah sesuatu yang sudah biasa kemudian menjadi tak biasa itu perlahan menghadirkan rasa kehilangan? karena, sesuatu yang paling menakutkan dalam pertemuan adalah mengikhlaskan perpisahan. dan yang paling menakutkan dari perpisahan itu adalah mengingat kenangan. bukankah kita juga tak bisa memilih, mana cerita yang dihilangkan dan mana yang dipertahankan?

maaf jika egois, tapi sepertinya kata terimaksih itu akan tetap disandingkan dengan maaf yang sudah jelas ketidakpantasannya. 
terimakasih sudah mengajarkan bahwasejauh apapun kaki melangkah, keluarga tetaplah tempat pulang. terimakasih selalu mengajarkan bahwa tidak butuh hal besar untuk bahagia. sesederhana makan mie titi dan semanis Donat Homi.
maaf untuk setiap kata dan sikap yang tak berkenan, untuk janji yang tak terlaksana, untuk masakan yang tak jadi tersedia, dan untuk buletin yang emmmmmm............

bagaimanapun keadaan sekarang dan nanti, sejauh apapun jarak yang harus dilewati, toh perpisahan akan tetap menyakitkan, tapi do'a dan kenangan akan selalu mendekatkan.





salam sayang untuk Keluarga Besar Stasiun Meteorologi Sorong
Najma