Senin, 24 Desember 2012

The Answer :')

namaku Najma. aku sulung dari 2 bersaudara. saat ini aku duduk di kelas XI di salah satu SMA Negeri di Jogjakarta. hobbyku membaca. apapun itu. aku sangat menggilai choki-choki, ice cream, moccafloat, dan cadburry. aku dilahirkan di keluarga sederhana namun penuh kebahagiaan. aku tak pernah menyesal dengan apa yang sudah aku lakukan dan dapatkan di kerluargaku. aku sangat bahagia. tapi semenjak aku duduk di kelas VII, perlahan namun pasti, kebahagiaan itu mulai terkikis oleh air mata. kini, semua perlahan mulai terbayang jelas dibenakku bagaimana kebahagianku perlahan mulai terenggut.
kupaksakan langkah kaki ku menaikki anak tangga. kepalaku terasa pusing. pandanganku mulai kabur. "ayoo najma, tinggal beberapa anak tangga lagi. semangat. kau pasti kuat." benakku.
tapi, dianak tangga terakhir, aku jatuh pinsan tak sadarkan diri.

"aku dimana?" tanya ku sembari melihat sekelilingku dan mencoba melepaskan alat bantu pernafasan di wajahku. kepalaku masih sangat terasa pusing.
"kamu di ambulance dek. tadi pihak sekolah menelpon kami. tadi adek jatuh pinsan disekolahnya." jawab seorang perawat dalam mobil yang melaju cukup kencang kurasakan.
"pinsan? yaAllah. mbak, tolong jangan kasih tau ayah bunda ya. aku gak papa. aku gak ingin mereka khawatir mbak."
"aduh dek maaf. tadi pihak sekolah sudah menghubungi orang tua adek. mereka sudah menunggu di UGD."
mendengar jawaban perawat tersebut, aku tak kuasa menahan air mataku. ayah bunda pasti sangat mencemaskan keadaanku. ini sudah kesekian kalinya aku pinsan.
entah karena capek menangis atau apa, aku kembali pinsan.

aku bisa merasakan badanku diturunkan dari ambulance. aku bisa merasakan bagaimana lembut halus belaian tangan ayah bunda. aku juga bisa mendengar tangis bunda yang mencemaskanku. aku ingin membuka mata dan mengatakan "ayah, bunda, najma gapapa kok." tapi aku tak kuasa melakukan itu. "yaAllah." batinku.

prlahan aku membuka mataku dengan kepala yang masih terasa nyeri.
"ayah, bunda, najma dimana?"
"najma di ICU nak." jawab ayah. bunda masih tak bisa berkata-kata.
"pak, bu, bisa ikut saya sebentar?" dokter itu memanggil ayah bundaku. yang belakangan ku ketahui namanya dokter Fadli.
"tentu dok." jawab ayah. perlahan kurasakan tangan mereka mulai menjauh dari badanku.
sayup-sayup aku bisa mendengar pembicaraan mereka.

"jadi, anak saya sakit apa dok? kenapa dia sering pinsan dan mengeluh sakit kepala?" tanya ayahku. bunda masih saja menangis. isakannya masih bisa ku dengar.
"anak saya tidak apa-apa kan dok?" bunda sudah mulai bisa berbicara. kali ini isakannya sudah tak ku dengar. "Alhamdulillah" batinku.

"pak, bu. saya harap anda tabah mendengar ini semua. saya harap bapak dan ibu bisa menerima kenyataan ini. ini semua sudah ditakdirkan oleh Allah."
"anak saya sakit apa dok?" tanya ayah
"anak ada positif mengidap meningitis, radang selaput otak."
"apa dok?" bunda bertanya dengan penuh rasa kaget. isakkannya terdengar kembali. kali ini lebih jelas kudengar.
"iya bu. Meningitis adalah radang selaput pelindung sistem saraf pusat. Penyakit ini dapat disebabkan oleh mikroorganisme, luka fisik, kanker, atau obat-obatan tertentu. Meningitis adalah penyakit serius karena letaknya dekat otak dan tulang belakang, sehingga dapat menyebabkan kerusakan kendali gerak, pikiran, bahkan kematian." jawabnya sambil menunjukkan beberapa gambar kepada ayah dan bundaku.





semua kudengarkan dengan jelas. kali ini posisiku tak lagi berbaring di tempat tidur. melainkan aku sudah berada di belakang ayah dan bundaku. aku memberi isyarat agar dokter tidak memberitahu posisiku kepada ayah bundaku.

"najma masih bisa disembuhkan kan dok? masa depannya masih panjang? yaAllah sembuhkan anakku." ayah bertanya dengan nada yang begitu serius. bunda masih terisak dalam pelukan ayah.

"najma gapapa yah. najma gapapa bund. najma sehat. najma ga sakit apa-apa. ayah bunda jangan takut. najma gak akan pergi secepat ini meninggalkan ayah bunda." ucapku dengan derai airmata tak tak urung berhenti membasahi pipi dan jilbabku.

ayah dan bunda menoleh kebelakang. mereka langsung menghampiriku, dan langsung memelukku. yaAllah, aku lebih rela mengidap penyakit ini dan mengetahui seorang diri, daripada seperti ini. aku tak kuasa melihat air mata bundaku yang terus membasahi wajah cantiknya. belakangan ayah juga meneteskan air mata. padahal ayahku ayah paling kuat di dunia. yaAllah hentikan tangisan mereka. aku mohon. aku tak kuasa melihatnya.

"ayah akan berusaha sekuat tenaga bekerja dan mencari uang untuk penyembuhanmu, nak."
"ayaaaah, bundaaa. udah dong nangisnya. najma gapapa. najma baik baik aja kok." yaAllah hatiku begitu sakit menyaksikan airmata yang tak kunjung berakhir dari mata orang-orang yang paling berarti dalam kehidupanku.
"bunda janji, semua akan bunda kasi untukmu nak, maafkan bunda dan ayah yang belum bisa jadi orang tua yang baik untuk najma. maafkan kami nak." bunda mengutarakannya dengan airmata itu.

"lalu dok, apa yang harus saya lakukan agar najma bisa sembuh dok?" tanya ayah.
"kali ini, saya akan memberikan najma obat. najma harus rutin check up 3 minggu sekali. obat ini harus habis. kita lihat perkembangannya. jika najma memburuk, mau tak mau najma harus dioperasi."
"apakan itu jaan satu-satunya dok?"
"iya pak. bapak dan ibu harus berdo'a agar Allah memberi kasih sayang-Nya pada najma. keajaiban itu ada pak, bu. percayalah. untuk kamu najma, jangan sedih ya. om akan berusaha sekuat tenaga untuk menyembuhkan kamu. kamu tidak boleh kecapekan, banyak fikiran, apalagi stres. semua akan mempengaruhi kondisi kamu. jika penyakit itu kambuh, om harap kamu tahan karena rasa sakit pada kepalamu akan terasa begitu dahsyat. yang tegar ya gadis kecil om." jelasnya panjang lebar yang diakhiri dengan senyuman. seraya menyodorkan obat kepadaku.


ayah dan bunda memelukku dan mencium keningku. ayah bunda makasi untuk semuanya...


sejak saat itu lah kebahagiaanku mulai pudar kurasakan. aku muak harus meminum obat yang sama. check up ke dokter. harus merasakan sakit yang luar biasa jika sakitku kambuh. yang paling aku tak kuasa, aku harus melihat ayah bundaku meneteskan air mata. apalagi, adikku pernah bertanya,
"mbak, mbak sakit apa? adek kasian liat mbak yang kesakitan trus kejang-kejang ato ndak triak-triak sambil megang kepalanya. trus setelah itu mba pinsan. mbak sakit apa sih mba?"
"mbak ga sakit sayang. mbak gapapa. adek do'ain aja mbak ya." aku tak kuasa mendengar kata-kata dari bibir polos adik kecilku. aku memeluknya dan tanpa terasa airmataku jatuh menetes membasahi rambutnya.

sekarang, sampai detik ini. sudah hampir 5 tahun aku mengidap penyakit ini. aku tidak akan menyerah begitu saja. aku baru saja menjalani operasi pertama pembersihan radang. operasi kedua akan dilaksanakn pada bukan maret. bulan kelahiranku. ini akan menjadi kado ulangtahun paling special untukku. sebuah operasi kedua. tapi aku tidak takut. aku akan berjuang melawan penyakit ini. aku akan berjuang demi ayah, bunda dan juga adikku.


ini lah aku. Najma Az Zahra dengan segala warna-warni kehidupan yang terlanjur terlalu menghabiskan banyak air mata.

^_^

0 Comments: