Senin, 29 Juli 2013

Dia Bidadariku #10

"ayo Ren, coba dibuka amplopnya. aku penasaran nih. hehe" bujuk Nadia.
"ah, ntar aja deh di kost. masa iya mau buka disini? bsok deh aku ceritain apa isinya ya. daaah aku pulang duluan ya.. assalamu'alaikum wr wb Nad." Reni berlalu dengan senyum manisnya.

Reni pun melangkahkan kakinya dengan penuh rasa penasaran. apa isi amplop biru ini dan dari siapa sebenarnya.

"alhamdulillah. akhirnya sampai juga." Reni langsung menaruh tasnya dan duduk di pojok kasur kamarnya. Reni mengeluarkan amplop biru dari saku jaketnya.

"bismillah......."

assalamu'alaikum wr wb..
hai Reni jelek.. bagaimana kabarmu? semoga baik-baik saja ya. tunggu-tunggu. kenapa aku mesti menulis beginian untukmu, ha? ada-ada saja. hoho
apa kau bertanya juga tntang kabarku? kalau iya, jawabannya alhamdulillah Allah masih memberikan Rahman dan RahimNya padaku. kalo nggak, kau harus nanya, biar aku gak malu. he
aku bingung mau nulis apa disini. abisnya aku gak biasa nulis. hehe. terserah apa yang akan tergoreskan di kertas ini ya.
oh iya, afwan aku menghilang. aku sedang menyelesaikan penelitianku di Singapura. aku juga sekalian mengurus kepindahan adik sepupuku disini. sebenernya kemaren aku pengen bilang ini sama kamu, tapi kamu asyik banget mandangin ujan. kamu lucu ya kalau liatin ujan. aku suka. hahahaa
afwan ya beberapa bulan ini aku gak bisa nemenin kamu buat ngeliatin ujan ataupun sekedar ngabisin ice cream. ntar kalo aku sudah balik, aku janji bakal nemenin kamu lagi kok. jangan manyun ya. aku bakal balik buat kamu. 
sudah dulu ya, aku gak mau makin ngelantur ntar nih. jaga diri kamu baik-baik ya Ren.
Wassalamu'alaikum wr wb..



Rian


"masyaAllah... apa-apaan ini mas? aku kan bukan siapa-siapa kamu. kenapa kamu segininya? buat apa juga kamu balik demi aku? maksud kamu apa mas? aku gak ngerti. yaAllah.. ada apa ini.. perasaan apa ini? kutitipkan cintaku pada-Mu ya Rabb. hingga akhirnya Kaulah yang akan menyampaikan cintaku pada orang yang tepat dan terbaik menurut-Mu.. aamiin..." 
Reni sungguh tak percaya dengan ini. dengan yang barusan dibacanya. ada apa dengan Rian? apakah Rian sudah mulai punya rasa untuk Reni? entahlah.. hanya Rian dan Allah yang tahu....

Dia Bidadariku #9

"Ren Ren aku punya kabar nih.." ujar Nadia yang mendatangi Reni di kelas.
"duh apaan sih Nad, kalo dateng itu salam to... ini malah heboh gak jelas gini... huuuu"
"hehe iya deh iya afwan. aku dapet berita tadi dari anak-anak kelas."
"apaan sih Nad? heboh banget."
"kamu masih inget Mas Rian gak? yang ngebalikin laporan aku itu.."
"oh itu.. mm iya aku inget. kenapa memangnya sama dia?"
"tadi aku dapet kabar kalau mas Rian dapet beasiswa ke Inggris selama dua tahun. tapi ada juga ang bilang kalau dia lagi ada musibah di kampungnnya. aku bingung yang mana." Nadia nyengir polos menceritakan itu semua.
"emmm... kita berdo'a saja yang terbaik untuk mas Rian ya Nad.." reni menanggapi dengan datar.
"yah Ren, kok kamu gak semangat gitu sih dengernya? jangan jangan kamu mulai suka yaaaa sama mas Rian? hayooooo" goda Nadia.
"ih kamu mah suudzan wae. nggak atuh Nad. aku mah biasa aja sama mas Rian." Reni mengelak.
"udaaah kamu ngaku aja. aku gak suudzan Ren, aku khusnuzan malah. kan bagus kalau kamu sama dia. hehehe"
"hush. kamu ngaco ih. mikirnya terlalu jauh. aku mau kuliah dulu Nadiaaaaaaa..."
"kalau kuliah sambil ta'arufan gak papa kali Ren. hahahaha"
"ah kamu ngayal mulu nih."
"biarin weeek. cieee reni cieeeee..."

Reni menerawang ke luar jendela. tanpa memperdulikan Nadia yang masih trus menggodanya.
"kamu beneran dapet beasiswa ya mas? wah selamat untuk kamu. semoga berhasil. tapi jika kamu memang sedang dalam masalah, aku do'ain semoga cepet kelar ya. kamu yang sabar ya mas. dimanapun kamu, Allah pasti ngasi yang terbaik buat kamu. " batin Reni.

tanpa terasa, jam pulang kuliah pun berakhir tanpa dosen yang mengajar...

"Ren... Reniiiiiii.... ayo pulaaaaang" Nadia mengagetkan Reni dalam lamunannya.
"haaa.... emmm... emmm iii.. iya Nad.." Reni kaget bukan main.
"kamu mikirin apa sih Ren?"
"emm nggak kok. gak ada apa-apa.. hehe. udah ah, yuk pulang. bismillah."
"ckckckck Reni...Reni...."

mereka pun melangkahkan kami keluar dari kelasnya... dan, beberapa orang ikhwan dan akhwat dengan menggunakan almamater kampus menghampirinya. Reni familiar dengan wajah-wajah mereka.

"assalamu'alaikum wr wb...." sapa segerombolan itu dengan ramah dan serempak.
"wa....wa'alaikumussalam wr wb.." jawab Nadia terbata-bata saking kagetnya.
"kalian Reni dan Nadia ya?" tanya salah seorang ikhwan.

Reni menatap almamater ikhwan tersebut. BAYU. nama yang terpampang di almamaternya.

"iya, aku Reni.. dan ini sahabat aku, Nadia...." Reni tersenyum.
"sorry ya kalo kami ganggu nih.  kami cuma mau nyampaiin ini aja." kata sorang akhwat bernama Sita sambil menyodorkan amplop biru kepada Reni lalu tersenyum.
"ini apa ya mbak?" tanya Reni heran.
"ntar juga kamu tau Ren. udah ya kami pamit dulu. syukron Reni Nadia..." kata Sita mengakhiri. sita masih dengan senyum manisnya.
"assalamu'alaikum wr wb.."  segerombolan itu pergi meninggalkan dua orang akhwat yang masih bingung dengan kejadian barusan.
"wa...wa...wa'alaikumussalam wr wb.." jawab mereka serempak dalam keadaan bingung....

Senin, 22 Juli 2013

Dia Bidadariku #8

masa libur sudah berakhir. semenjak bertemu dengan Rian,  Reni menghabiskan masa liburnya dengan berdiam diri di kost. sesekali Reni keluar jika memang ada keperluan yang harus dibelinya.

"assalamu'alaikum Reniiiiiiiiiiiiii................" sapa Nadia di depan kelas mereka dan langsung memeluk Reni.
"wa'alaikumussalam Nad. wah enak ya yang sudah pulang kampung."
"iya dong, hehe. oh iya, kamu selama liburan kemana aja? jangan bilang kamu di kost aja. hahaha"
Reni berniat menceritakan pertemuannya dengan Rian. tapi niat itu diurungkannya.  jadi Reni hanya tersenyum.
"kamu ini, sekali-kali keluar dooong."
"biarin ah...."

mereka langsung memasuki kelas. karena dosen mereka sudah terlihat di ujung koridor. mata kuliah hari ini Reni lalui dengan  penuh semangat. maklumlah  ini hari pertama Reni duduk du bangku semester tiga.

tak banyak yang dilakukan Reni dihari pertamanya ini. ada sedikit rasa aneh yang terbesit dalam hatinya. entahlah reni pun tak mengerti.

beberapa hari ini Reni menghabiskan waktunya untuk membaca buku di perpustakaan kampusnya. sekedar melepas penat yang ada. suara guntur mulai terdengar. Reni memikirkan sesuatu. iya, Reni merasa harus menikmati hujan ditempat itu lagi.

Reni bergegas merapikan buku-buku itu. kebetulah tempat tersebut tak jauh dari kampus Reni. hanya berjalan kurang lebih 15 menit.

"akhirnya sampai juga. alhamdulillah." Reni duduk di kursi yang sudah disediakan di tempat itu. reni mengambil kursi tepat si sudut ruangan yang langsung bisa memandang keluar tanpa terhalang apapun.
hujan pun turun. reni terkagum-kagum dengan panorama huja dari atas situ.

"sudah beberapa hari ini aku tak melihat orang itu." ujar Reni dalam hati. tanpa dia sadari, Reni merindukan sesosok ikhwan itu. ikhwan yang menurutnya aneh.
"pertamakali aku kesini bareng dia. tapi kenapa aku nggak ngeliat dia ya hampir seminggu ini.... astagfirullah Ren Ren.. ngapain juga kamu mikirin dia." batinnya.

Reni hanyut dalam atmosfer hujan saat itu. Reni menghabiskan waktu siang dan sorenya di tempat itu. tempat yang sudah membuat Reni jatuh hati pada-Nya.

Minggu, 21 Juli 2013

Dia Bidadariku #7

"nih mas ice creamnya...." ujar Reni sambil menyodorkan ice cream itu pada Rian. tanpa Reni sadari, omongannya mengagetkan Rian yang sedang senyam senyum sendiri.
"naaah gitu doong. syukron ya... haha"
"iya mas... yaudah aku pamit dulu yaaa. assalamu'alaikum..."
"wa'alaikumussalam. eeeehhhh...." Rian menarik tas Reni. tak ayal langkah Reni terhenti.
"apa lagi sih mas? aku mau pulang"
"aku kan belum nyuruh kamu pulang. kamu harus nemenin aku abisin ice cream ini. ayo pergi."
lagi dan lagi Rian menarik tas Reni. Reni mau tak mau mengikuti mau Rian.

"kamu jalan di depan." ujar Rian sambil mundur beberapa langkah.
"loh kok aku mas? aku mana tau jalan."
"udaaah ntar aku yang kasi tau kamu. ntar kalo kamu yang dibelakang, kamu malah kabur lagi. aku capek narikin tas kamu mulu. ntar putus lagi. hahaaha."
"aku juga capek mas." Reni berjalan sesuai arahan Rian. sepanjang jalan Reni tak henti-hentinya ngomel dalam hati karena tingkah Rian. dan Rian dibelakang masih tersenyum geli dan bangga memperhatikan tingkah akhwat yang ada di depannya itu.

"oke stop. kita sudah sampai."
"sudah? ini kan hanya pusat perbelanjaan mas. emang kita mau makan ice cream nya berdiri disini teeeerrr......."
"bawel." lagilagi Rian memotong pembicaraan Reni. "sini ice creammu aku yang pegang."
"loh mas?"
"udah siniin." rian mengambil kantung plastik yang ada ditangan Reni. "sekarang kamu tutup mata."
"hah? apaan sih mas?" 
"udah gak usah bawel. kamu tinggal tutup mata aja. gak usah dibuka. walaupun aku gak tau kamu buka mata atau nggak, tapi ada Allah yang ngawasin kamu kan."
"iya deh iyaaaaa. aku manut."

Reni menutup matanya. Rian menarik tas Reni. Reni hanya mengikuti tarikan Rian.

"oke, sekarang kamu boleh buka matamu."
perlahan Reni membuka matanya. yang ia dapati sebuah ruangan kecil. tak begitu banyak orang di ruangan itu. sebuah ruangan yang memiliki sebuah jendela besar. dari balik jendela itu terlihat pemandangan kota Bandung dari atas. tak kelewatan panorama sunset yang bisa dinikmati setiap orang yang ada di ruangan itu.

"subhanallah..." kalimat itu spontan keluar dari mulut Reni. Rian masih saja menatap Reni yang masih terpaku dengan keindahan ciptaan-Nya yang sedang ada di depan mereka

"nih ice cream mu, Ren."
"eh.. mm iya mas makasih..." Reni tersadar dari lamunannya.
"gimana? kamu suka tempat ini?"
"iya mas, aku suka banget."
"alhamdulillah kalau gitu."
Reni tak bersuara. iya masih terkagum-kagum dengan yang ada di depannya saat ini. Reni menghabiskan ice creamnya sambil mengagumi karya indah Sang Maha Pencipta.
Rian masih saja tersenyum memperhatikan Reni dari belakang. 

"udah mau maghrib nih. ayo pulang Ren." ujar Rian yang berdiri di samping Reni sambil menatap jingga nya langit kota Bandung.
"emm.. iya mas..."

mereka berdua meninggalkan tempat itu. Reni janji akan ke tempat itu lagi untuk menikmati hujan. dijalan pulang, mereka mampir di salah satu Masjid untuk menunaikan sholat maghrib.

Reni menatap punggung Rian yang sedang menunggunya di tangga masjid itu. Rani berjalan menghampiri Rian.

"emmm... sudah mas.."
"eh... aku antar pulang ya..."
"nggak mas, aku pulang sendiri aja. gapapa kok."
"tuh kan bawel lagi. udah aku anterin kamu aja. ini udah malem. ayo jalan" lagi lagi Rian menarik tas Reni.

mereka berjalan menyusuri jalanan kota itu. untung saja jalanan masih sangat ramaii. jadi tak ada yang berfikir aneh-aneh terhadap mereka.

"oke sampai.. syukron mas."
"afwan Ren.. kamu langsung istirahat ya.. jangan lupa isya' dan tahajudnya tapi." Rian tersenyum
Reni membalas senyum Rian. "iya mas, insyaAllah."
"yaudah aku pamit dulu yaaa... assalamu'alaikum wr wb."
"wa'alaikumussalam wr wb..."
Rian sudah pergi beberapa langkah dari hadapan Reni
"eh mas...."
Rian berbalik hadap.
"emm... makasi banyak ya buat tempat tadi. indah. aku suka banget."
"oh itu.. iya sama-sama Ren. syukur deh kalo kamu suka."
"hehe iya mas."
"yaudah aku pamit ya. assalamu'alaikum wr wb.
"wa'alaikumussalam wr wb.."

malam itu mereka sibuk dengan pikiran dan hati mereka masing-masing.....