Sabtu, 05 Oktober 2013

Gadis itu bernama...Zahra



ini hanya sebuah penggalan cerita seorang gadis.
iya, Zahra si gadis yang sangat mencintai hujan. karena hujan selalu bisa mengalirkan setiap atmosfer yang berbeda dari nikmat-Nya yang lain.

"Assalamu’alaikum. Malem tante…"  Zahra tersenyum manis setelah membuka pintu dan memasuki ruangan check up.

sudah hampir lima tahun ini Zahra mengidap penyakit yang tak pernah disangkanya sama sekali. meningitis. radang selaput otak. dan hari ini adalah jadwal check up sekaligus mengambil hasil theraphy yang kemaren baru saja di jalani olehnya.

"Malam Zahra. Silahkan duduk.." Dokter Putri mempersilahkannya duduk dengan senyum manis yang terlukis di bibir mungilnya.
"Hehe iya makasi tante." Zahra duduk dengan hati yang dagdigdug.
"Sendirian aja? papa mama dan yang lain kemana?" 
"Iya tant, papa mama pakde bude lagi ke Bandung, ada acara nikahan sepupu Zahra disana. Sendiri deh."
"Ooh begitu. Yasudah gak apa-apa. Gimana? Ada efek theraphynya? Masih kaya biasanya?"
"Iya masih tant. Kemaren serem. Pas jam 2an gitu gak bisa digerakin tangan sama kaki Zahra. Nyeri. Nyutnyut juga. Trus pas abis olahraga Zahra gemeteran. Tumben gemeterannya. Pas jam 2an itu Zahra sendirian di rumah. Kan ceritanya lagi jadi anak kost. Tapi ya itu tadi, kenapa mesti tengah malem? Sendirian trus. Ya gitu deh tante."
"Sekarang masih nyeri?"
"Udah nggak tant. Alhamdulillah."
"jadi begini. Seperti yang udah tante bilang sebelum ini kan. Theraphy itu berat deq. Obat dan vaksin nya yang bikin begitu. Kalo adeq gak cocok, efek paling ringan biasanya gatel. Tapi adeq gak gatel kan? Alhamdulillah. Ya emang seperti itu efek theraphy deq. Kalau untuk jam berbeda-beda tiap orangnya. Mungkin hormone adek yang ngebut jadi begitu. Bisa juga factor kondisi tubuh adeq. Adeq masih suka dingin-dinginan?"
"Masih tant. Hehe"
"Nah itu dia. Jangan biasain deq. Ntar makin parah. Kan adeq juga bilang akhir-akhir ini sering sakit dadanya. Dijaga ya deq.. kan tante Cuma ngingetin aja. Jadi adeq yang lakuin semuanya. Masih inget apa aja pantangannya?"
"Gak boleh over coklat. Ice cream. Intinya yang dingin. Snack dikurangin. Gak boleh capek. Gak boleh dingin-dinginan. Gak boleh mandi ujan. Obatnya harus habis. Gak boleh bandel. Nurut kata tante kalo emang mau sehat. Sekian. Hehe"
"Wah pinter. Itu hafal diluar kepala sepertinya. Tapi dilakuin ya. Jangan dihafal aja. Oh iya, jangan sering keluar malem. Itu dingin deq. Kalau mau liat langit, jaketan atau selimutanlah. Yang paling penting, adeq lupa sebutin. Jangan lupa tau telat makan. Itu bisa bahaya kan. Kan dinding lambungnya sudah lecet. Masa iya mau sampai lebih parah? Kan naudzubillah."
"Hehe iya tante insyaAllah."
Dijaga tuh amanah Allah. Yuk periksa dulu. Baring di tempat biasa ya..

dokter putri pun memeriksa keadaan Zahra. ini bukan hal baru bagi Zahra. dan, ini seperti sudah menjadi rutinitas hidup Zahra selama hampir 5 tahun ini.

"Tekanan darahnya masih sama. 90/50. Ayo dong, jangan nakal. Jangan begadang terus. Adeq tante bilangin nakal terus nih"
"Abisnya gak bisa tidur. Maunya sih nge-baygon aja biar sekalian."
"Hush. Gak boleh ngomong gitu. Adeq bosen ya kaya gini? Sabar ya deq. Tante juga maunya adeq gak kesini-kesini lagi. Jadi adeq sehat kan."
"Iya tante."
"Oh iya, ini hasil kemarin…" dokter menyodorkan map coklat di atas meja. Zahra mengambilnya dengan penuh harap dan do'a.
"semoga tak terjadi apa-apa..." batinnya.
"ini diBukanya kapan tant?"
"Terserah adeq dong. Udah ngerti cara bacanya?"
"Belom. Hehe"
"Tante jelasin ya. Buka dulu amplopnya."

dokter menjelaskan dengan sangat serius kepada Zahra.

Jleb!
"Maaf sayang. ini tandanya Allah sayang Zahra. Zahra ngerti kan maksud tante." dokter Putri memeluk Zahra dengan segala kehangatan yang ia miliki. Zahra masih tak percaya dengan apa yang sedang dihadapinya sekarang.

Zahra hanya bisa mengangguk dengan airmata yang mulai mengalir di pipinya.

"Zahra berjuang ya sayang" dokter menguatkan Zahra.
"Tapi Zahra gak mau operasi lagi tante. Gak mau. Udah. Takut. Terlalu takut. Sakit tante."
"Iya sayang, tante ngerti. Ini gak jalan satu-satunya kok. Ini juga masih lama. Karena Zahra masih 17th jadi minimal satu tahun dulu dari operasi kedua. Biar efek kimia nya gak jadi berbahaya. Zahra kemarin operasi pertama Desember tahun lalu kan? Berarti operasi kedua ya januari tahun depan kan sayang. Dan itu masih beberapa bulan lagi. Jadi maksimalkan untuk cegah radangnya semakin luas sayang. Ngerti kan?"

Zahra masih mengangguk. dan masih dengan airmata yang tak kunjung terhenti.

"Ini resep obatnya. Ada beberapa yang baru. Ntar kalau gak cocok, kasi tau ya. Inget kan gimana aturan obatnya?"
"Iya tante… iya deh tant, makasi ya. Jangan bilang papa mama dan yang lainnya dulu ya. Zahra takut tant."
"Iya sayang. Cepet sembuh ya."
"Aamiin. Iya tant, makasih. yaudah kalau gitu Zahra pamit ya tante."
"iya sayang. tapi sebelum pulang, tante boleh kan meluk Zahra sekali lagi?"

Zahra tersenyum. mengangguk. Zahra mengiyakan. Dokter Putri langsung memeluk Zahra dengan sangat erat. lalu menghapus airmata yang masih mengalir di wajah pasiennya itu.

"jangan nangis lagi sayang, tunjukin ke orang-orang kalau Zahra bisa. kalau Zahra kuat. Zahra pasti sembuh. itu pasti. aamiin." dokter meyakinkan Zahra. Zahra menangkap sebuah kekuatan dari sepasang mata wanita yang sedang menatap nya dalam.
"iya tante. makasih banyak ya. Zahra pamit tant. Assalamu’alaikum wr wb.."
"hati-hati sayang. wa'alaikumussalam wr wb." mereka berpisah dengan sebuah senyuman yang masing-masing memiliki arti tersendiri.

Zahra masih dengan pikiran dan perasaan yang campur aduk. sempat terbesit dalam benaknya,
"aku hanya bisa menyusahkan papa mama dan yang lain. maaf untuk setiap kali Zahra nyusahin kalian. terimakasih karena kalian sudah mau repot-repot dan perhatian sama Zahra. Zahra bakal berjuang demi kalian. Pasti. maaf dan terimakasih, untuk kalian semua yang sedang Zahra rindu."
Zahra menangis di tempat favoritnya. pantai.


sekali lagi, gadis yang sedang berjuang itu bernama.... Zahra 


0 Comments: