ini hanya sebuah penggalan cerita seorang gadis.
iya, Zahra si gadis yang sangat mencintai hujan. karena hujan
selalu bisa mengalirkan setiap atmosfer yang berbeda dari nikmat-Nya yang lain.
"Assalamu’alaikum.
Malem tante…" Zahra tersenyum manis setelah membuka pintu dan
memasuki ruangan check up.
sudah hampir lima tahun ini Zahra mengidap penyakit yang tak
pernah disangkanya sama sekali. meningitis. radang selaput otak. dan hari ini
adalah jadwal check up sekaligus mengambil hasil theraphy yang kemaren baru
saja di jalani olehnya.
"Malam Zahra. Silahkan duduk.." Dokter Putri
mempersilahkannya duduk dengan senyum manis yang terlukis di bibir mungilnya.
"Hehe iya makasi tante." Zahra duduk dengan hati yang
dagdigdug.
"Sendirian aja? papa mama dan yang lain kemana?"
"Iya tant, papa mama pakde bude lagi ke Bandung, ada acara
nikahan sepupu Zahra disana. Sendiri deh."
"Ooh begitu. Yasudah gak apa-apa. Gimana? Ada efek
theraphynya? Masih kaya biasanya?"
"Iya masih tant. Kemaren serem. Pas jam 2an gitu gak bisa
digerakin tangan sama kaki Zahra. Nyeri. Nyutnyut juga. Trus pas abis olahraga
Zahra gemeteran. Tumben gemeterannya. Pas jam 2an itu Zahra sendirian di rumah.
Kan ceritanya lagi jadi anak kost. Tapi ya itu tadi, kenapa mesti tengah malem?
Sendirian trus. Ya gitu deh tante."
"Sekarang masih nyeri?"
"Udah nggak tant. Alhamdulillah."
"jadi begini. Seperti yang udah tante bilang sebelum ini
kan. Theraphy itu berat deq. Obat dan vaksin nya yang bikin begitu. Kalo adeq
gak cocok, efek paling ringan biasanya gatel. Tapi adeq gak gatel kan?
Alhamdulillah. Ya emang seperti itu efek theraphy deq. Kalau untuk jam
berbeda-beda tiap orangnya. Mungkin hormone adek yang ngebut jadi begitu. Bisa
juga factor kondisi tubuh adeq. Adeq masih suka dingin-dinginan?"
"Masih tant. Hehe"
"Nah itu dia. Jangan biasain deq. Ntar makin parah. Kan
adeq juga bilang akhir-akhir ini sering sakit dadanya. Dijaga ya deq.. kan
tante Cuma ngingetin aja. Jadi adeq yang lakuin semuanya. Masih inget apa aja
pantangannya?"
"Gak boleh over coklat. Ice cream. Intinya yang dingin.
Snack dikurangin. Gak boleh capek. Gak boleh dingin-dinginan. Gak boleh mandi
ujan. Obatnya harus habis. Gak boleh bandel. Nurut kata tante kalo emang mau
sehat. Sekian. Hehe"
"Wah pinter. Itu hafal diluar kepala sepertinya. Tapi
dilakuin ya. Jangan dihafal aja. Oh iya, jangan sering keluar malem. Itu dingin
deq. Kalau mau liat langit, jaketan atau selimutanlah. Yang paling penting,
adeq lupa sebutin. Jangan lupa tau telat makan. Itu bisa bahaya kan. Kan dinding
lambungnya sudah lecet. Masa iya mau sampai lebih parah? Kan
naudzubillah."
"Hehe iya tante insyaAllah."
Dijaga tuh amanah Allah. Yuk periksa dulu. Baring di tempat
biasa ya..
dokter putri pun memeriksa keadaan Zahra. ini bukan hal baru
bagi Zahra. dan, ini seperti sudah menjadi rutinitas hidup Zahra selama hampir
5 tahun ini.
"Tekanan darahnya masih sama. 90/50. Ayo dong, jangan
nakal. Jangan begadang terus. Adeq tante bilangin nakal terus nih"
"Abisnya gak bisa tidur. Maunya sih nge-baygon aja biar
sekalian."
"Hush. Gak boleh ngomong gitu. Adeq bosen ya kaya gini?
Sabar ya deq. Tante juga maunya adeq gak kesini-kesini lagi. Jadi adeq sehat
kan."
"Iya tante."
"Oh iya, ini hasil kemarin…" dokter menyodorkan map
coklat di atas meja. Zahra mengambilnya dengan penuh harap dan do'a.
"semoga tak terjadi apa-apa..." batinnya.
"ini diBukanya kapan tant?"
"Terserah adeq dong. Udah ngerti cara bacanya?"
"Belom. Hehe"
"Tante jelasin ya. Buka dulu amplopnya."
dokter menjelaskan dengan sangat serius kepada Zahra.
Jleb!
"Maaf sayang. ini tandanya Allah sayang Zahra. Zahra ngerti
kan maksud tante." dokter Putri memeluk Zahra dengan segala kehangatan
yang ia miliki. Zahra masih tak percaya dengan apa yang sedang dihadapinya
sekarang.
Zahra hanya bisa mengangguk dengan airmata yang mulai mengalir
di pipinya.
"Zahra berjuang ya sayang" dokter menguatkan Zahra.
"Tapi Zahra gak mau operasi lagi tante. Gak mau. Udah.
Takut. Terlalu takut. Sakit tante."
"Iya sayang, tante ngerti. Ini gak jalan satu-satunya kok.
Ini juga masih lama. Karena Zahra masih 17th jadi minimal satu tahun
dulu dari operasi kedua. Biar efek kimia nya gak jadi berbahaya. Zahra kemarin
operasi pertama Desember tahun lalu kan? Berarti operasi kedua ya januari tahun
depan kan sayang. Dan itu masih beberapa bulan lagi. Jadi maksimalkan untuk
cegah radangnya semakin luas sayang. Ngerti kan?"
Zahra masih mengangguk. dan masih dengan airmata yang tak
kunjung terhenti.
"Ini resep obatnya. Ada beberapa yang baru. Ntar kalau gak
cocok, kasi tau ya. Inget kan gimana aturan obatnya?"
"Iya tante… iya deh tant, makasi ya. Jangan bilang papa mama dan yang lainnya dulu ya. Zahra takut tant."
"Iya sayang. Cepet sembuh ya."
"Aamiin. Iya tant, makasih. yaudah kalau gitu Zahra pamit
ya tante."
"iya sayang. tapi sebelum pulang, tante boleh kan meluk
Zahra sekali lagi?"
Zahra tersenyum. mengangguk. Zahra mengiyakan. Dokter Putri
langsung memeluk Zahra dengan sangat erat. lalu menghapus airmata yang masih
mengalir di wajah pasiennya itu.
"jangan nangis lagi sayang, tunjukin ke orang-orang kalau
Zahra bisa. kalau Zahra kuat. Zahra pasti sembuh. itu pasti. aamiin."
dokter meyakinkan Zahra. Zahra menangkap sebuah kekuatan dari sepasang mata
wanita yang sedang menatap nya dalam.
"iya tante. makasih banyak ya. Zahra pamit tant.
Assalamu’alaikum wr wb.."
"hati-hati sayang. wa'alaikumussalam wr wb." mereka
berpisah dengan sebuah senyuman yang masing-masing memiliki arti tersendiri.
Zahra masih dengan pikiran dan perasaan yang campur aduk. sempat
terbesit dalam benaknya,
"aku hanya bisa menyusahkan papa mama dan yang lain. maaf
untuk setiap kali Zahra nyusahin kalian. terimakasih karena kalian sudah mau
repot-repot dan perhatian sama Zahra. Zahra bakal berjuang demi kalian. Pasti.
maaf dan terimakasih, untuk kalian semua yang sedang Zahra rindu."
Zahra menangis di tempat favoritnya. pantai.
sekali lagi, gadis yang sedang berjuang itu bernama....
Zahra
0 Comments:
Post a Comment