Senin, 29 Desember 2014

Jalan-Jalan Lalokersss

Assalamu’alaikum wr wb
Aaaaakhirnyaaaaa liburanpun dataang. Yaaah walau cuma tiga hari aja ya. Liburan tiga hari ini aku sambut dengan segudang rencana jalan-jalan. Iyaps, 4 bulan di tanah rantau Ibukota, aku sama sekali belum ngapa-ngapain dan belum kemna-mana. What theeeeee……………………. *nyengir

Tapi Alhamdulillah, dipengujung tahun ini, bisa ngerasain liburan. Dan liburannya bareng anak-anak kelas. Kami menyebutnya, Lalok Community, kami dari kelas Klimatologi 1 (re lalok : tidur, Padang).
Jadi, begini Kronologinya……………. *jengjeng
Jum’at, 26 Desember 2014 kami cuuuussssss. Dengan berbekal seorang Taruna kelas kami sebagai guide, namanya Cakra. alasannya baik banget deh..
“Cak, kok kamu sendirian yang taruna?” aku nanyain dia.
“yoi cuy, kan aku taruna mau ngejagain dan nemenin kalian taruni-taruninya.” Cakra jawab pake tampang sok bin sombong minta ditabokin. Haha

Setelah lama nunguin Fitri yang dandannya lama banget, kami berangkat. Naik angkot 08 ke Stasiun Pondok Ranji. Oh iya, kami jalan itu berduabelas orang.
Nindya, Rikha, Vika, Dinda Rosya, Dinda, Asti, Lisa, Fitri, Nabila, Fifi, Rosita, dan yang pastinya Cakra.
Itu satu angkot full sama kami. Hehe
Eh iya, semalam sebelumnya, kami dengan personel taruni yang sama main ke bintaro plaza, ceritanya sih dinner gitu. *abaikan

Di Pondok Ranji  kami beli tiket KRL buat ke Stasiun Jakarta Kota. Rp 2500 cuy. Hemaaat.  Kami transit dan berganti tempat di beberapa stasiun, yaitu stasiun Tanah Abang, Stasiun Manggarai, dan terakhir Stasiun Jakarta Kota.

Sampai di stasiun, kami lapeeeeer cuuuy. Akhirnya kami mutusin buat makan dulu. Yap, masih di area Stasiun Jakarta Kota. Di tempat itu akhirnya aku bisa ngerasain lagi MOCCAFLOAT setelah 4 bulan nggak ngerasain itu maaaaaak. Nyes adem banget akunya. Hehe

Setelah itu kami capcus ke tujuan utama. Kota Tua. Daaaaaan jengjeeeng, rameeee. Kami disambut hujan. Kalo dipelajaran sandi synop itu 78292. Setelah puas fotoan, kami capcus ke museum wayang. Dan bayarnya Rp 3000. Yoi, kami nunjukin kartu mahasiswa. Dimanapun itu kami tetap ngutamain hemat. Hoho puas keliling museum wayang, kami wisata kuliner. Hampir semua jajajanan kami cobain, dan seketika predikat hemat menghilang begitu saja. Hujan bukan penghalang untuk kami melakukan semuanya. Dan si Cakra menjadi photographer abadi kami. Hehe

Nggak terasa, sudah mendekati ashar. Tadinya rencananya sih mau lanjut ke Monas sama Istiqlal, tapi takutnya kemaleman pulangnya. jadilah kami memutuskan untuk pulang. Kan jam malam kami masih berlaku, hehe

Singkat cerita, kami mengakhiri perjalanan kami di kost Uni. Ujan-ujan sambil makan donat yang kami beli secara  patungan. Mantap bro!
Terimakasih buat semuanya, lalokers. Hari yang indaaah
^_^




edisi dinner malem Jum'at *eh

yang lahap yaay beb Rikhaaa





Stasiun Jakarta Kota

MoccaFloat


museum wayang

tampak depan museum wayang


di KRL juga sempetin eksis. hehe

doraaaemooon


















 
donat sebagai hidangan penutup perjalanan kami
^_^

Selasa, 23 Desember 2014

Duapuluhdua desember yang berbeda..

Halo bun,
Apa kabar?
Ah, rasanya ganjil sekali melontarkan itu. Kita satu rumah, namun jarang kutanyakan kabarmu.
Anak macam apa aku ini. Makanan yang kau sediakan di atas meja tak lantas membuatku peduli kabarmu saban hari. Maaf ya,

Bun.
Mungkin kita jarang berbicara. Saat membuka mulut pun, hanya adu argumen yang ada. Rasanya susah sekali menahan diri. Apapun yang ada di kepala, aku lontarkan semua. Begitu
terucapkan, aku hanya bisa menyesal.
Bunda mungkin sudah biasa. Menghadapi ego dan kesoktahuan anaknya. Dari dulu, pikirmu. Tidak apa-apa. Engkau tersenyum, dan tersenyum saja.

Bundaku yang cantik,
Apa aku boleh bertanya? Bagaimana bentukku saat aku keluar dari rahimmu? Aku penasaran, Ma. Hanya bisa kubayangkan sakitnya. Dari situ pikiranku melanglang: ketika 9 bulan membawaku, hal-hal ganjil apa saja yang kulakukan terhadapmu? Bagaimana perasaanmu ketika tahu rasa sakitmu sebagai ibu tak hanya kau derita saat melahirkan saja?Dari situ aku bisa mengerti, betapa sabar dirimu selama ini.

Tapi harus kuakui. Kadang memang aku heran pada sikapmu. Bunda pernah marah-marah ketika aku main ke rumah teman sampai jam 10 malam. Bunda sibuk meneleponku untuk pulang, padahal aku sudah bilang berkali-kali bahwa aku aman. Aku tahu bunda takut terjadi apa-apa denganku di jalan. 

Bun, sebenarnya ada banyak hal yang ingin kusampaikan. Tapi aku terlalu malu untuk mengatakannya langsung. Aku takut melihatmu menangis. Aku tidak tahan melihat air matamu keluar. Apalagi ketika aku harus pergi ke tempat yang jauh dari rumah. Saat aku hendak berkelana sementara, bunda membuktikan perhatian dengan mempersiapkan barang bawaan untukku. Sayangnya, terkadang aku sendiri bingung barang-barang itu harus aku apakan.
“Ini bunda siapin selimut. Bawa ya!”
“Aduh, ntar beli aja di sana. Berat tauk ma!”
Aku masih ingat itu. Aku menolak barang-barang yang sudah kau siapkan untukku. Hanya ketika mau berangkat, aku mengangkutnya ke bagasi. Dengan berat hati, dan separuh mencak-mencak tak mengerti.
Namun saat jauh, aku rindu padamu.Ah… Untunglah ada barang-barang ini. Kupeluk saja selimut yang bunda siapkan. Aku tidak jadi kedinginan.

Bun,
Bolehkah aku bertanya tentang impianmu saat muda dulu? Ketika umur 5, 10, atau seumurku, cita-cita apa yang sebenarnya bunda gantungkan? Dokterkah, layaknya anak-anak pada umumnya? Atau malah bunda punya cita-cita yang lebih unik, seperti fotografer dan penulis buku?
Maaf ya bun, karena keberadaanku, bunda harus rela mengambil apapun kesempatan berkarya yang ada, dan bekerja 2 kali lebih keras dari seharusnya.

Ya,
Aku melihatmu sebagai seorang pekerja keras. Bahkan tugas-tugas rumahan sebenarnya menyedot banyak tenaga dan waktu luang. Pagi-pagi sekali, bunda harus bangun untuk memasak sarapan. Selanjutnya, bunda harus menyiapkan peralatan sekolahku dan adik2. Bunda harus berbelanja agar di rumah ada yang bisa dimakan. Kadang, kalau aku sedang rajin aku akan berusaha membantumu semampuku. Iya, bunda banyak bertanya. Pertanyaan bunda pun sebenarnya selalu sama: “Sudah makan belum?”, “Sudah sholat?” Kalau aku menjawab “belum”, nada bicaramu langsung berubah dan sifat cerewetmu mulai keluar.

Bun, wajahmu mulai menua. Mulai ada keriput disana, membuatku sadar ragamu tidak sekuat dulu. Penyakit mulai mengerogoti tubuhmu. Aku pun pernah harus melihatmu terbaring di atas tempat tidur. Tapi kau malah tetap tersenyum dan menanyakan apa aku sudah makan.

Izinkan aku mengatakan sesuatu yang belum sempat kusampaikan langsung. Aku tidak tahu kapan kita akan berpisah. Ada saatnya, aku akan mengantarkanmu ke tempat peristirahatan terakhirmu. Atau mungkin saja bunda yang mengantarkanku. Apapun akhirnya, akan ada saat dimana kita berdua harus rela. Kapanpun itu, hanya Yang Disana yang tahu. Aku hanya ingin mengingat bahwa kita pasti kembali bertemu.

Mama, Ibu, Ibundaku…
Terima kasih sudah memutuskan memilikiku. Terima kasih sudah memperkenalkanku pada dunia. Terima kasih sudah mengajarkanku apa arti perjuangan.
Maafkan anakmu ini: yang selalu membuatmu was-was, yang selalu bertindak semrawut, yang tak cukup sering menyapu rumah…ah!
Aku hanya bisa berharap untuk terus bisa memberikan yang lebih baik lagi untukmu. Secerewet apa pun dirimu, bunda tetap wanita nomor satu bagiku.
Aku tidak bisa memilih siapa yang menjadi ibuku. Bunda pun tak tahu anak seperti apa yang akhirnya lahir dari rahimmu.  Tuhan yang mempertemukan kita.
Aku bersyukur bisa berkenalan dengan bunda. Tersenyumlah, bun.
Penggemar beratmu nomor satu,
Anakmu.








NB:
hasil begadang bareng si Mba. berhubung kami nggak kreatif jadinya hasilnya kayak buatan anak TK ya. malah lebih bagus buatan anak TK sepertinya. hehe
terimakasih untuk duapuluhduadesember tahun ini, walaupun Hari Ibu pertama di tanah rantau, tapi nggak sendiri merasakannya dan ada yang bisa dilakuin.
welcome to Ibukota, Mba
^_^

Kamis, 18 Desember 2014

Surat Untuk Sekolahku...


Tangerang Selatan, Kamis, 18 Desember 2014

Bismillah..
Assalamu’alaikum wr wb
Tak terasa, 41 tahun sudah kini umurmu. 41 tahun sudah kau mencetak kader penerus bangsa. 41 tahun sudah kau menjadi saksi kisah kami yang indah, kisah yang saat ini menjadi kenangan tak terlupakan. 41 tahun sudah kau berdiri kokoh menjadi tumpuan perjuangan menuntut ilmu.

Terlalu banyak kisah disana. Sebuah bangunan sederhana yang bernama SMA Negeri 3 Mataram. Tak seserhana bangunannya, tak sesederhana namanya. Tempat ini terlalu istimewa, begitu tertanam di lubuk hati. Terasa bangunan ini memiliki jiwa yang entah sampai saat ini masih terasa memanggil untuk diperhatikan atau hanya sekedar untuk dikunjungi. Sayang, jarak kita kini terlalu jauh.

Banyak hal yang tak bisa diungkapkan dengan kata. Banyak hal yang bisa dilakukan namun dibatasi oleh jarak. Banyak hal yang hanya bisa terpikirkan dan tersimpan rapi begitu saja. Ada rasa ingin memberontak, namun apa daya, kini semua serba terbatas. Terbatasi oleh sebuah kata yang bernama JARAK.

Beginikah rasanya? Ingin hadir diperayaan Ulang Tahun mu namun terbatasi oleh jarak?
Beginikah rasanya? Ingin ikut memeriahkan namun hanya bisa memandangi foto-foto yang diupload orang lain?
Brginikah rasanya? Ingin ada diantara mereka, namun hanya bisa mendengar cerita-cerita saja?
Beginikah rasanya? Ingin ini ingin itu namun serba terbatasi?
Apapun keadaannya, tak ada alasan yang bisa membatasiku untuk tetap mendoakanmu kan?
Mendoakanmu agar tetap jaya. Mendoakanmu agar semakin di hati. Mendoakan semua yang terbaik tentangmu kan?


walau raga ini tak sedang disisimu saat ini. walau tak hadir langsung memeriahkan peringatanmu. walau tak ikut menorehkan cerita secara langsung di tahun ini, namun di jarak kita yang berjauhan saat ini, aku akan selalu mempedulikanmu, dan berharap mereka yang saat ini sedang disisimu, mereka bisa jauh lebih memedulikanmu dari kami yang sedang berada jauh disini. peduli kami, terlalu peduli.

Terimakasih untuk setiap sudut yang menjadi kisah indah. Terimakasih untuk setiap jengkal yang menjadi saksi kenangan manis. Terlalu banyak hal yang tak bisa diungkapkan disini, cukup tersimpan rapi di hati. Sekali lagi, terimakasih smanti…

Salam rindu,

Najma
X 4
XI IPA 1
XII IPA 1