Selasa, 23 Desember 2014

Duapuluhdua desember yang berbeda..

Halo bun,
Apa kabar?
Ah, rasanya ganjil sekali melontarkan itu. Kita satu rumah, namun jarang kutanyakan kabarmu.
Anak macam apa aku ini. Makanan yang kau sediakan di atas meja tak lantas membuatku peduli kabarmu saban hari. Maaf ya,

Bun.
Mungkin kita jarang berbicara. Saat membuka mulut pun, hanya adu argumen yang ada. Rasanya susah sekali menahan diri. Apapun yang ada di kepala, aku lontarkan semua. Begitu
terucapkan, aku hanya bisa menyesal.
Bunda mungkin sudah biasa. Menghadapi ego dan kesoktahuan anaknya. Dari dulu, pikirmu. Tidak apa-apa. Engkau tersenyum, dan tersenyum saja.

Bundaku yang cantik,
Apa aku boleh bertanya? Bagaimana bentukku saat aku keluar dari rahimmu? Aku penasaran, Ma. Hanya bisa kubayangkan sakitnya. Dari situ pikiranku melanglang: ketika 9 bulan membawaku, hal-hal ganjil apa saja yang kulakukan terhadapmu? Bagaimana perasaanmu ketika tahu rasa sakitmu sebagai ibu tak hanya kau derita saat melahirkan saja?Dari situ aku bisa mengerti, betapa sabar dirimu selama ini.

Tapi harus kuakui. Kadang memang aku heran pada sikapmu. Bunda pernah marah-marah ketika aku main ke rumah teman sampai jam 10 malam. Bunda sibuk meneleponku untuk pulang, padahal aku sudah bilang berkali-kali bahwa aku aman. Aku tahu bunda takut terjadi apa-apa denganku di jalan. 

Bun, sebenarnya ada banyak hal yang ingin kusampaikan. Tapi aku terlalu malu untuk mengatakannya langsung. Aku takut melihatmu menangis. Aku tidak tahan melihat air matamu keluar. Apalagi ketika aku harus pergi ke tempat yang jauh dari rumah. Saat aku hendak berkelana sementara, bunda membuktikan perhatian dengan mempersiapkan barang bawaan untukku. Sayangnya, terkadang aku sendiri bingung barang-barang itu harus aku apakan.
“Ini bunda siapin selimut. Bawa ya!”
“Aduh, ntar beli aja di sana. Berat tauk ma!”
Aku masih ingat itu. Aku menolak barang-barang yang sudah kau siapkan untukku. Hanya ketika mau berangkat, aku mengangkutnya ke bagasi. Dengan berat hati, dan separuh mencak-mencak tak mengerti.
Namun saat jauh, aku rindu padamu.Ah… Untunglah ada barang-barang ini. Kupeluk saja selimut yang bunda siapkan. Aku tidak jadi kedinginan.

Bun,
Bolehkah aku bertanya tentang impianmu saat muda dulu? Ketika umur 5, 10, atau seumurku, cita-cita apa yang sebenarnya bunda gantungkan? Dokterkah, layaknya anak-anak pada umumnya? Atau malah bunda punya cita-cita yang lebih unik, seperti fotografer dan penulis buku?
Maaf ya bun, karena keberadaanku, bunda harus rela mengambil apapun kesempatan berkarya yang ada, dan bekerja 2 kali lebih keras dari seharusnya.

Ya,
Aku melihatmu sebagai seorang pekerja keras. Bahkan tugas-tugas rumahan sebenarnya menyedot banyak tenaga dan waktu luang. Pagi-pagi sekali, bunda harus bangun untuk memasak sarapan. Selanjutnya, bunda harus menyiapkan peralatan sekolahku dan adik2. Bunda harus berbelanja agar di rumah ada yang bisa dimakan. Kadang, kalau aku sedang rajin aku akan berusaha membantumu semampuku. Iya, bunda banyak bertanya. Pertanyaan bunda pun sebenarnya selalu sama: “Sudah makan belum?”, “Sudah sholat?” Kalau aku menjawab “belum”, nada bicaramu langsung berubah dan sifat cerewetmu mulai keluar.

Bun, wajahmu mulai menua. Mulai ada keriput disana, membuatku sadar ragamu tidak sekuat dulu. Penyakit mulai mengerogoti tubuhmu. Aku pun pernah harus melihatmu terbaring di atas tempat tidur. Tapi kau malah tetap tersenyum dan menanyakan apa aku sudah makan.

Izinkan aku mengatakan sesuatu yang belum sempat kusampaikan langsung. Aku tidak tahu kapan kita akan berpisah. Ada saatnya, aku akan mengantarkanmu ke tempat peristirahatan terakhirmu. Atau mungkin saja bunda yang mengantarkanku. Apapun akhirnya, akan ada saat dimana kita berdua harus rela. Kapanpun itu, hanya Yang Disana yang tahu. Aku hanya ingin mengingat bahwa kita pasti kembali bertemu.

Mama, Ibu, Ibundaku…
Terima kasih sudah memutuskan memilikiku. Terima kasih sudah memperkenalkanku pada dunia. Terima kasih sudah mengajarkanku apa arti perjuangan.
Maafkan anakmu ini: yang selalu membuatmu was-was, yang selalu bertindak semrawut, yang tak cukup sering menyapu rumah…ah!
Aku hanya bisa berharap untuk terus bisa memberikan yang lebih baik lagi untukmu. Secerewet apa pun dirimu, bunda tetap wanita nomor satu bagiku.
Aku tidak bisa memilih siapa yang menjadi ibuku. Bunda pun tak tahu anak seperti apa yang akhirnya lahir dari rahimmu.  Tuhan yang mempertemukan kita.
Aku bersyukur bisa berkenalan dengan bunda. Tersenyumlah, bun.
Penggemar beratmu nomor satu,
Anakmu.








NB:
hasil begadang bareng si Mba. berhubung kami nggak kreatif jadinya hasilnya kayak buatan anak TK ya. malah lebih bagus buatan anak TK sepertinya. hehe
terimakasih untuk duapuluhduadesember tahun ini, walaupun Hari Ibu pertama di tanah rantau, tapi nggak sendiri merasakannya dan ada yang bisa dilakuin.
welcome to Ibukota, Mba
^_^

0 Comments: