basmalah...
16 tahun sudah aku bernafas di dunia ini. 16 tahun sudah ku lewati lembar demi lembar kehidupanku. 16 tahun sudah aku dibesarkan oleh ayah bundaku. ini amat sangatlah membahagiakan untukku. well, tanpa ku sadari, perlahan kebahagiaan itu mulai menipis. kebahagiaan dalam keluarga kecilku, hilanglah sudah. ini sungguh sangat mengurai air mata.
semalam, bagiku adalah suatu rasa sakit yang amat sangat mendalam. tahapan demi tahapan rasa sakit itu kujalani dengan terus mencoba untuk tersenyum. dan berharap semuanya berakhir. namun, yang terjadi adalah invers dari keinginanku itu. ayah dan bundaku, orang yang paling ku sayangi di dunia ini perlahan namun pasti mulai menggoreskan luka di hati.
aku selalu terbangun dikala aku terlelap. aku terbangun karena suara tangis. suara teriakkan. bahkan tak jarang dengan suara benda pecah belah yang terjatuh atau bahkan dijatuhkan ke lantai. awalnya aku hanya menutup telinga dan wajahku dengan bantal agar aku tidak mendengar suara itu dan agar bisa kembali tertidur. walau aku tahu, yang kulakukan sia-sia.
hari demi hari kulalui dengan peristiwa yang sama. yang mulai menggoreskan luka di hati. namun, aku masih terlalu labil untuk urusan seperti ini. aku muak dengan rutinitas baruku. menutup wajah dan telingaku dengan bantal. aku tak tahan. ini benar-benar membuatku stres. dan tak jarang menyebabkan penyakitku kambuh, dan kepalaku amat sangat sakit dibuatnya.
aku lelah, aku jenuh, aku bosan, aku muak, tapi aku tak mau pasrah.. aku harus bisa menghentikan ini semua bagaimanapun caranya.
sore kemarin, kejadian itu kembali lagi. aku kembali mendengar suara-suara itu. argh! kenapa ini harus terjadi lagi. aku tak tahan. ku buka pintu kamarku dan menuju kamar orang tuaku, ya dengan penuh emosi dan air mata.
"ayah...bunda.. kenapa seperti ini terus? aku capek yah, bund. aku bener-bener ga rela kalau adik mendengar ini semua. please, cukup.. mengerti keadaan kami, yah..bund.. aku minta tolong.."
PLAAAKK!!!!!!
telapak tangan lembut itu mengenai pipi kiriku. sakit. itu yang kurasa. namun bukan sakit diwajahku. namun sakit tepat pada luka di hati. bunda? apakah benar itu tadi tangan yang selama 16 tahun ini merawatku? aku sungguh tak mempercayainya.
KAMU KELUAR DARI KAMAR BUNDA! INI BUKAN URUSANMU! KELUAR BUNDA BILANG!!!
aku langsung meninggalkan mereka. sekuat tenaga ku tahan air mataku untuk tak mengaliri pipiku. tapi itu semua siasia, dua langkah keluar dari kamar itu, airmataku sudah tak terbendung lagi. aku langsung memasuki kamarku. mengunci pintu. ini benar-benar perih kurasakan. aku tak tahan.
lagi dan lagi ku rasakan, perih luka yang begitu dalam. aku bosan dengan ini semua. aku mencoba mengakhiri semuanya. aku mengirimkan pesan singkat untuk salah seorang kakak ku..
luka bekas operasi besar ku yang belum juga mengering sasaran kekalapanku. aku memukulnya dengan tanganku sendiri. sakit. tapi ini tak seberapa dengan apa yang kurasakan dihatiku. ntah berapa kali aku melakukan hal itu. cairan merah mulai membasahi pakaian dan juga sprai kamarku. aku tak peduli. aku sekuat tenaga menahan suara teriakkan rasa sakitku agar tak terdengar. namun, sekali lagi itu percuma. sara teriakkan ku akhirnya terdengar ayah bundaku. mereka datang menghampiriku. itu yang ku ingat peristiwa semalam..
ntah apa yang terjadi setelah itu. kurasa aku tak sadarkan diri. yang aku tahu hanyalah ketika aku bangun aku sudah berada di sebuah ruangan yang tak asing bagiku. ruangan yang sangat ku kenal. UGD rumah sakit tempatku biasa dirawat. ada ayah bunda dan juga adikku. namun tak satu kata pun keluar dari mulut kami
setelah sadarkan diri, aku memegang pipi kiri ku. perih. itu yang kurasa. aku tak mau berlama-lama disana. aku langsung berusaha bangun dan ingin pulang. keluargaku tak dapat mengelak. aku pulang dan beistirahat karena keesokkan harinya aku harus sekolah. aku tak mau di rumah. aku masih trauma dengan kejadian ini. aku tak betah di rumahku sendiri...
well, semenjak peristiwa semalam, aku menyatakan... selamat tinggal kebahagiaan dalam hidupku...
selamat datang lembaran pilu kehidupanku..............

0 Comments:
Post a Comment